Showing posts with label IBUKU. Show all posts
Showing posts with label IBUKU. Show all posts

Wednesday, 3 September 2014

YAITU IBUMU, IBUMU, IBUMU BARU BAPAKMU

IBUMU, IBUMU, IBUMU, BARU BAPAKMU ....


Seorang sahabat bertanya ke pada Rasulullah : "Ya Rasul, siapakah orang yang paling harus saya taati di dunia ini ?” Rasulullah menjawab, “Ibumu”. Sang sahabat bertanya lagi, “Lalu siapa lagi Yaa Rasul ?” Rasulullah pun menjawab, “Ibumu”. "Kemudian setelah itu siapa lagi, Yaa Rasul ?” sang sahabat itu bertanya lagi. Rasulullah menjawab, “Ibumu”. Sang sahabat itu bertanya lagi, "Kemudian siapa lagi Ya Rasul ?”, Rasulullah pun akhirnya menjawab, “Bapakmu ...

Kisah teladan ini pertama kali saya dengar dari almarhumah eyang uti (ibunya bapak). Nah, jadilah kisah itu yang selalu digadang-gadang ibu, untuk merajuk ke kita, anak-anaknya setiap kali ada maunya.

IBU YANG CENGENG

Ceritanya, sejak sebulan lalu, beliau sudah heboh minta hadiah ulang tahun yang bertepatan pada hari ini, Kamis, 4 September. Katanya saat menelepon, "Wing, bulan depan 'kan ibu ulang tahun. Ibu minta apa yaaaaa ... ?" Lalu dengan PD nya, beliau pun berucap, "Ibu minta mobil donk ... " Saya pun kontan menjawab, "Emangnya aku direktuuuuurrr ... minta hadiah ulang tahun mobil ?" Ibu pun tertawa-tawa. Lalu muncullah dalil itu, "Yaitu ibumu, ibumu, ibumu, baru bapakmu ... " kata ibu. Saya pun menggoda, "Iya, kalo ibunya ga' matereeeeee ... " Ibu pun ketawa makin keras di ujung telepon.

Jadi, hari ini ibu ulang tahun. Agak susah juga cerita tentang ibu. Yang saya tahu tentang ibu ya hanya itu, cantik, putih, besar, pinter masak, pinter dandan, tertutup (apa-apa dipendem sendiri, yang ada darah tinggi), masa mudanya jagoan olah raga, terutama voli, sekarang sukanya mainan kucing, sama getolnya sama berorganisasi dan berpolitik. Selebihnya, saya ga tahu apa-apa lagi ....

Ibu juga sosok perempuan yang cengengnya bukan main. Banyak acara keluarga yang 'rusak' gara-gara ibu suka mewek ala sinetron gitu deh. Mau seneng mau sedih, tahu-tahu sudah sibuk mewek. Diceritain kucing ditendang juga, ibu bisa tuh, termehek-mehek di ujung telepon di tegal sana ! Makanya, kalau sudah acara reuni keluarga ibu & de gang keluarga Menado nih, disebut artis sinetron 'Tersanjung' sinetron di era 80'-an yang penuh dengan tangisan Bombay.

Nah, bicara sebagai seorang berdarah Manado, ibu tuh orang Menado yang ga' doyan ikan. Padahal, masakan Manado itu umumnya serba ikan. Pokoknya, saya saksi hiduplah, yang sejak kecil nemuin ibu kasih mam saya ikan paling banter bandeng presto doank, selain itu ga pernah. Kalaupun kita serumah sesekali mam ikan pindang banyar, itu pastilah kiriman sahabat ibu, sesama perias penganten, yang saban jumat kirimin sayur asam, sambal plus ikan pindang banyar khas Tegalan.

Menyoal kegemaran makan, ibu suka sekali mam junk food ! Bayangin aja, saban kali saya mudik, saya harus nurutin ibu mam Mc.D ma Pizza Hut. Padahal itu warung makan, di Jakarta asli ada sebelah rumah ma di seberang rumah bintaro. Masa udah mpe kampong masih disuruh mam yng beginian juga ? OMG ibuuuuu .... !!! 

KAMU CUMA BERDUA !

Saya, termasuk anak yang tidak dekat dengan kedua orang tua. Saya tidak dekat sama bapak, tidak juga dekat sama ibu. Saya jarang sekali curcol sama orang tua saya, sama ibu maupun bapak. Jadi saya ya ga pernah curhat sama mereka. Kecuali yang urusan remeh-temeh atau yang kebetulan berkenaan dengan mereka berdua. Makanya, seringkali saya takjub dengan mereka, anak-anak yang begitu dekat dengan kedua orang tuanya.

Entah ya dengan detya, apakah dia cukup terbuka atau tidak dengan ibu & bapak. Sebab saya juga jarang banget berbagi cerita sama 'fotokopi'nya ibu yang satu kartu keluarga dengan saya itu selama hampir tiga puluhan tahun itu. Yang pasti ibu lebih sering pergi ke Bandung-lah, nemuin detya timbang nemuin aku di Jakarta. Ya ... namanya juga anaknya, ya gak ?  :)

Di sisi yang lain, kami juga sangat dekat dan kompak. Setidaknya setiap kali lebaran, saya, ibu dan detya selalu pakai baju kembaran atau sama'an. Dan sayalah yang selalu kebagian tugas pengadaan seragam itu, dari baju lebaran, baju kondangan, dst. Rempong juga, sebab berat di ongkos. Sekali waktu pergi ke Pekanbaru, Riau, saya pun bangkrut membeli oleh-oleh kain khas Riau yang warnanya ibu banget !

Kain-kain khas Riau untuk busana muslim atau gamis, perpaduan warna dan aplikasi bordirnya, sangat cetar membahana, ada pink ketemu hijau, ungu ketemu oranye, hitam ketemu merah, pokoknya warnanya ibu banget. Kebayang warna-warna itu menempel di kulitnya yang putih itu, bagus banget kan jadinya (sebel!) Lah, kalau sepotongnya berkisar Rp. 500.000,- sd. Rp. 700.000,- untuk kembaran kita bertiga kan bangkrut sayanyaaaaa ... ?

Lain kesempatan, saya mampir ke jalan Veteran, Denpasar, belanja kain kebaya bordir. Ya, lagi-lagi saya harus belanja untuk kami bertiga. Kalau ada 2 (dua) jenis untuk saya, berarti saya juga harus beli yang 4 (empat) lainnya untuk ibu sama anaknya yang di Bandung itu. Dan masih banyak deh, contoh kasus yang lain. Hehehehe ....

Propaganda ibu yang selalu diteriakkan ke saya dan detya setiap kali berantem, gebuk2an, pukul2an, tendang2an sejak kecil itu, katanya, "Kamu itu cuma berdua, harus saling tolong-menolong ! Jangan sampai, anaknya detya ga' bisa sekolah karena ga' punya uang, kamu (saya) harus bayarin ! Kamu juga detya, jangan sampai anaknya mba' iwing ga bisa sekolah karena ga' punya uang, kamu harus bayarin !" Semoga, kita berdua segera beranak Ya Allah ... !!!  :)

MENANTU IDAMAN

Kembali lagi soal ibu. Kalau diamat-amati sepertinya, ibu lumayan ga' resehlah jadi menantunya eyang uti & eyang kakung. Apalagi menjelang akhir hayatnya eyang uti, saya melihat kedua perempuan ini sungguh sama hebatnya ! Manusiawi saja, berinteraksi dengan ibu mertua 'kan tidak mudah, apalagi mengurusnya bila dalam keadaan sakit.

Sementara, di saat-saat terakhir masa hidupnya, alhamdulillah eyang uti memilih lebih banyak menghabiskan waktunya bersama kami, keluarga sederhana ini, di Tegal, bersama ibu dan bapak. Masalahnya, saat itu, ibu masih aktif berpolitik. Jadi, eyang banyak ditinggal ibu. Kadang mungkin ibu cape sering pergi ke luar kota, jadi saat di rumah jarang ketemu eyang karena istirahat di kamar. Nah, dalam hal ini, almarhumah eyang uti sebagai sosok yang sangat spesial sepanjang hidupnya, bisa menerima kesibukan ibu yang demikian padat, sungguh luar biasa kebesaran hatinya, memaklumi kesibukan sang menantu sehingga jarang berinteraksi dengan beliau.

Namun di sisi yang lain, di tengah-tengah kesibukannya, ibu tetap bisa menyediakan makan pagi, siang, dan malam on time ala eyang, itu juga sebuah prestasi yang luar biasa. Almarhumah eyang uti sebagai sosok yang besar dengan didikan jaman dulu (belanda) adalah sosok yang selalu disiplin, termasuk jam makan. Beliau selalu sarapan pukul 06:00 pagi dan makan malam pukul 18:00 sore. Belum lagi, support ibu yang maksimal kepada bapak untuk stand by menerima panggilan eyang uti jam berapa saja, tengah malam, pagi buta, siang bolong, untuk jemput eyang uti di mana pun, itu juga tak kalah luar biasa. Coba kalau ibu itu menantu yang reseh, tentu ibu tidak support bapak untuk senantiasa berbakti kepada ibunya, eyang uti ....

Ibu getol olah raga sejak muda, terutama voli. Getolnya ibu main voli jaman saya SD mpe SMP dulu, saya agak2 gimana gitu tiap kali ditenteng ibu latihan malam2 mpe2 ke gudang bulog arah keluar kota Tegal. Belum lagi, kalau sedang tanding, badan ibu yang gak mungil itu seringkali disorakin penonton. Tapi jangan salah, begitu ibu lompat dan melakukan smash dengan kencang, para penonton pun bersorak, ga jadi ngelecehin. Yang pasti, alhasil saya dan detya jadi doyan voli juga mpe sekarang gara-gara nontonin ibu maen voli saat kita masih kecil.

MENGAJI & MENYANYI

Saya dan detya, dilesin ngaji sejak SD hingga SMA. Seminggu sekali tiap jumat, sejak sebelum maghrib hingga lewat pukul 20:00 wib. Nah, biasanya nih, kelar ngaji, saat saya pulang, ibu dan bapak malah ga' ada, pergi nonton. Yang lucu, sekali waktu mereka pergi nontonnya yang pukul 21:00 wib, ternyata mereka berduaan pergi nonton naik becak loh bukan naik mobil ! Kwkwkwkwk !!! Ingat banget liat mereka berdua empet2an di becak.

Ibu juga getol ndorong saya untuk sibuk berkesenian. Kalau bukan karena dorongan ibu, saya rasa otak kanan saya ga' bakal dominan seperti sekarang ini. Sejak kecil, ibulah yang daftarain saya les organ, les gambar, les bina vokalia pranadjaya, berguru keroncong, ngeband di pabrik Teh Sosro di Slawi, hingga ngijinin ngamen nyanyi di acara kawinan !  Ibulah yang ngater saya ke mana-mana ikutan lomba nyanyi. Bahkan saat saya sakit panas pun, ibu tetep maksa saya ikutan lomba Pop Singer se Jawa-Bali. Sakti ga tuh ? Alhasil, saya dapat juara 3 deh, se-Karesidenan Pekalongan. Saat ikutan Lomba Penyanyi Remaja (LPR) tingkat Nasional, ibulah yang sibuk carikan saya pengiring, karena suara harus direkam melalui kaset. Walau ga juara, saya berhasil masuk 30 besar semifinalis tingkat nasional se-Indonesia loh, masih 15 tahun waktu itu. Juaranya ya Irma June, Johandy Jahya, Heidi Yunus dkk. deh ... 

Pasalnya soal nyanyi ini, BG alias babe galak, agak-agak ga suka gitu. Sekali waktu saat saya mo ngamen, saya dibelain sama ibu, ngatur jadwal supaya bisa keluar ngamen ga ketahuan bapak, nyanyi di pemalang, masih 16 tahun saya waktu itu ! Kata bapak, "Cita-cita kok jadi penyanyi ????" Lah, siapa yang cita2nya jadi penyanyi ? Lawong cuma hobi doank kok. Nah, karena sering juara nyanyi sejak SMP inilah, akhirnya saya ditawarin kerjaan jadi penyiar radio. Ibu makin seneng deh. Saat saya berhenti siaran karena mo' konsen ujian SMA, ibu marah-marah. Kasihan radio nya katanya, sebab masa saya dulu itu, saya bersama 2 penyiar SMA lainnya cukup meramaikan dunia siaran di kota Tegal. Dulu ....  :p   

Nah, itulah ibu. Saya tahunya cuma segitu. Pokoknya setiap kali ibu ambil rapot di sekolah, biasanya temen2 pada bisik-bisik, "Kae ibune Firlly" ("Itu ibunya Firlly"). Mungkin teman2 heran ya, ibu dan anak ga mirip.

Semoga, di hari ulang tahunnya ini, ibu selalu sehat, diberikan umur yang barokah, dimuliakan Allah, selalu kompak bersama bapak mengurus kucing-kucing kesayangannya, selamat dunia & akhirat. Aamiin ...

Tuesday, 21 December 2010

IBUKU

Subuh-subuh, pulang dari rumah sakit pagi tadi tiba-tiba ibu telepon. "Halo, assalamualaikum," kata ibu. "Ada di mana kamu ?" tanyanya. "Di rumah," jawab saya. "Wing, kamu tahu lagu ini ga, 'Kasih ibu, sepanjang masa ...' tahu 'ga ?" tanyanya.

Tahun lalu, saat diminta sebagai pembicara sebuah siaran radio dalam rangka memperingati Hari IBu, ibuku minta saya membuatkan materi dialog yang bertema teknologi dan peran ibu. Pagi ini, ibu meminta saya mendiktekan lagu KASIH IBU untuk meng-up date statusnya di facebook.

Saya pun baru teringat kalau hari ini ternyata HARI IBU. Ya sudah deh, subuh-subuh itu saya mendikte ibu lagu "KASIH IBU". Kasih ibu, kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia, sementara ibu mencatat di seberang telepon sana. Dari speaker telepon terdengar suara bapak menyanyi lagu itu keras-keras. Ternyata Bapak hafal lagu itu, dan ibu sebel dengar suara nyanyiannya yang kueraasss itu ... wuakakakak !

"Selamat hari ibu ya Bu," kata saya. "Lah, emoh," katanya seperti biasa reaksinya kalau diberi selamat ulang tahun. "Hadiahnya mana ?" tagihnya. Hahahahahaha ... "Selamat hari ibu juga buat si kucing mbok ya, Bu" pinta saya. "Iya deh, tuh kucing mbok lagi nyusuin anak-anaknya, 5 ekor yang baru dilahirkan 3 hari lalu" jawabnya.

Sudah 37 tahun 11 bulan, Stella Emilina binti James Pangkey, itulah nama indah beliau, menjadi ibu saya, dengan segala kekurangan dan kelebihan (berat badan) nya, hahahahaha. Tapi yang pasti, walaupun kadang kala suka judes setengah mati, ibu saya itu memang asli cantik, pinter masak dan fashionable abis ! Ibu, tidak pernah ragu pakai baju yang tabrak warna sekalipun ! Jarang sekali ibu pakai baju yang berwarna kalem, selalu cerah, terang benderang, sehingga semakin menonjolkan kulit putihnya yang seperti susu atau pualam ya ?  Begitupun warna lipstiknya, selalu merah cerah sepedas cabe ! Semasa mudanya, ibu aktif berolah raga, jago voli, tenis sekaligus merias penganten tradisional dan berorganisasi. Namun bakat berdandan itu tak menurun sedikit juga pada kami anak-anaknya. Kasihan deh luuuu ... (gue gitu maksudnya).

Ibuku itu, 'pemain sinetron', cepat sekali mewek, dan membuat setiap acara keluarga mengharu biru dengan tangisannya. Karena kepiawaiannya dalam menangis itu, kami anak-anaknya sering dikomplain saudara2 lantaran tangisan ibu membuat seluruh keluarga jadi ikut menangis ! Wuakakakak ... ! Kegemarannya membuat kue kering setiap kali ramadhan sejak saya kecil dulu, seringkali membuat saya sebeeeeeeell, karena saya dipaksa membantunya dari bedug subuh sampai seharian mencetak kue-kue itu dengan tangan ! Sekarang, karena saya tidak lagi tinggal di rumah ibu, di setiap lebaran saya dengan manja selalu saja minta jatah kastengel dan nastar buatannya yang dasyat !

Ibuku yang berdarah Manado itu, kalau mau masak bubur tinutuan, bubur khas Manado, justeru telepon ke saya bertanya resepnya ! Gubraaaaakkkk ! Saat ini, ibuku menjadi satu-satunya anggota dewan perwakilan rakyat daerah perempuan paling senior (tertua) di Kota Tegal, di antara para anggota dewan lainnya yang usianya lebih muda dari saya.

Semoga di hari ibu ini, ibu semakin mendapat kemuliaan Allah SWT, tetap terjaga kecantikannya, tetap luar biasa kekuatan dan ketabahannya, ketegarannya dalam mendapingi bapak dan kami anak-anaknya. Semoga Allah senantiasa mencintai beliau karena amalan dan ibadahnya yang luar biasa. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, rezeki dan kemudahan di segala urusan beliau karena keikhlasannya mengurus dan mempermudah segala urusan kami anak-anaknya, selama ini. Semoga doa-doanya yang khusuk, senantiasa menjaga kami dan mengantarkan kami anak-anaknya ke kehidupan yang senantiasa diridhoi Allah SWT, karena keridhoannya. Sebagaimana sabda rasul kepada para sahabatnya yang bertanya tentang manusia yang layak dihormati dengan sangat di muka bumi ini,"... maka itu adalah ibumu, ibumu, ibumu, baru bapakmu ..."