Thursday, 24 November 2011

Kekerasan terhadap Perempuan

Komnas Perempuan mencatat sepanjang tahun 2010 kekerasan terhadap perempuan mencapai angka 105.103 kasus, di mana 96% di antaranya terjadi di ranah privat alias di rumah!

Yang patut dicermati berdasarkan temuan Komnas Perempuan tersebut setidaknya ada 2 (dua) hal ;
1. PELAKU KEKERASAN DIDUGA ORANG DEKAT. Kecenderungan sumber, keberadaan pelaku kekerasan terhadap perempuan sebagian besar,  secara ekstrim, yaitu 96% angka yang nyaris mendekati 100%, terjadi di ranah privat. Artinya, perempuan justru mengalami perlakuan yang tidak sepatutnya justru dari orang-orang dekat yang ada di sekitarnya. Catatan Komnas Perempuan yang dilaporkan Harian Kompas (25/11/11) itu memang tidak menyebutkan secara lebih detil siapa saja yang paling sering melakukan kekerasan terhadap perempuan. Namun setidaknya, berdasarkan data tersebut dugaan pelaku kekerasan terhadap perempuan dapat lebih digambarkan.

2. KASUS TERLAPOR vs TIDAK TERLAPOR. Catatan Komnas Perempuan baru menggambarkan kasus yang dilaporkan. Berdasarkan fenomena, gejala yang seringkali terjadi di masyarakat saat ini, kekerasan terhadap perempuan diduga jauh lebih besar dari angka yang dilaporkan.


Ketua Komnas Perempuan mengatakan bahwa "... Perempuan masih enggan untu melaporkan kasusnya ke institusi berwenang karena secara kultural hal seperti ini akan dianggap sebagai membuka aib keluarga." Artinya, secara tersirat terlihat bahwa pelaku kekerasan terhadap perempuan adalah keluarga. Dan perempuan mempunyai banyak pertimbangan untuk tidak menyampaikan masalah kekerasan yang menimpanya.

MENGAPA PEREMPUAN ENGGAN MELAPOR ?
Dugaan kaum perempuan enggan melaporkan masalah kekerasan yang dialaminya, antara lain;

1. Takut. Sudah menjadi fitrahnya, perempuan diciptakan sebagai makhluk yang lemah (secara fisik dibandingkan pria). Kerapnya perlakukan kekerasan yang dialami perempuan membuat mereka belajar dan mempelajari modus juga pola kekerasan yang dialaminya. Bisa jadi, berdasarkan pengalamannya, bila perempuan meminta pertolongan kepada orang lain atas kekerasan yang menimpanya ia justru akan semakin mendapatkan perlakuan yang lebih buruk. Itulah sebabnya perempuan memilih untuk tidak melaporkan tindak kekerasan yang dialaminya;

2. Malu. Sudah menjadi fitrahnya pula, perempuan adalah makhluk yang sangat perasa. Bila seorang perempuan memilih untuk tidak melaporkan kekerasan yang dialaminya, bisa jadi karena ia sangat menjaga martabat dan harga dirinya dari cemoohan dan gunjingan orang banyak;

3. Tegar. Fitrah lain seorang perempuan adalah ketegarannya yang melebihi seorang laki-laki. Walaupun perempuan diciptakan sebagai makhluk yang lemah, namun faktanya perempuan memiliki kekuatan lain yang membuatnya mampu bertahan secara lebih baik dripada kaum pria dalam situasi yang penuh tekanan. Itulah sebabnya, perempuan terkesan tahan banting dengan kekerasan yang kerap menimpanya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang  'biasa' yang masih berada di bawah batas toleransi 'ketegaran'nya. Hal ini tentu saja membuat perempuan seperti kehilangan sensitivitasnnya dalam membedakan hal mana yang menjadi patut dan mana yang tidak lagi patut bagi dirinya untuk ditolerir. Dalam hal ini perempuan seolah terperangkap dalam kekuatan dan ketegarannya sendiri yang sungguh dasyat!

4. Mandiri. Perempuan yang merdeka secara mental, spriritual maupun material akan menyikapi kekerasan yang dialaminya jauh lebih cepat walaupun cenderung ekstrim. Kemampuannya untuk hidup secara mandiri dan tidak tergantung dengan orang lain membuat perempuan akan memilih meninggalkan situasi buruk yang dihadapinya tanpa merasa perlu melaporkannya kepada siapapun. Bagi yang sudah menikah, keputusan bercerai mungkin menjadi pilihan solusi yang efektif. Sementara bagi yang belum menikah, meninggalkan rumah, hidup, mandiri dan terpisah dari keluarga pun menjadi tidak sulit dilakukan;

5. Eksekusi. Perempuan yang tidak matang secara mental, mantap secara spiritual dan tidak merdeka secara finansial akan memilih cara ekstrim yang lain, yaitu mengakhiri hidup. Keterbatasan pilihan solusi yang mungkin dimilikinya ditambah lemahnya keimanan menjadikan para perempuan tidak sempat melaporkan kekerasan yang menimpanya dan memilih menyelesaikan masalahnya secara tragis. Duduk perkara yang sebenarnya baru mengemuka disertai bebagai kisah yang menyeruak paska kematiannya. Berdasarkan sejumlah cerita yang sering dijumpai di berbagai media massa saat ini, maka terbayang betapa banyaknya kasus kekerasan yang dialami perempuan dalam kondisi mengenaskan seperti ini.

Gagalnya antisipasi kasus kekerasan terhadap perempuan;

1. GAGALNYA JURU DAMAI. Ketidakmampuan pihak ketiga dari keluarga terdekat berperan sebagai juru damai. Seperti yang dicatat oleh Komnas Perempuan, kasus kekerasan terhadap perempuan sebagian besar terjadi di ranah privat. Artinya, pelaku kekerasan terhadap perempuan dapat diduga dilakukan orang-orang dekat, yaitu keluarga. Namun bisa jadi, ketidaktahuan masyarakat akan proses penyelesaian yang sesuai dengan ketentuan agama atau nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat belum dimengerti benar. Hakekatnya, setiap perselisihan yang terjadi di dalam sebuah keluarga diupayakan dengan menghadirkan pihak ketiga dari keluarga. Masing-masing pihak yang beselisih dapat menunjuk wakil yang menjadi mediator dalam bermusyawarah. Atau kedua pihak yang berselisih juga dapat bersepakat untuk menunjuk seorang juru damai yang akan membantu menyelesaikan persoalan di antara keduanya secara obyektif dan amanah.

Persoalannya, apabila pihak ketiga tidak mengetahui perannya sebagai juru damai di tengah keluarga manakala ada anggota keluarga yang berselisih maka hal ini menyebabkan kekerasan terhadap perempuan semakin berlanjut.

Persoalan yang terjadi itu sendiri bisa saja adalah hal yang sangat pribadi. Namun kekerasan terhadap perempuan yang menyertai sebuah persoalan, itu adalah soal lain yang patut menjadi perhatian setiap anggota keluarga dan bukanlah sebuah hal yang dapat dibenarkan. Apalagi bila persoalan itu sendiri tidak ada, melainkan sebuah kekerasan itu sendiri yang telah menjadi kebiasaan dan menjadi bagian dari pola interaksi di antara anggota keluarga, itu sungguh merupakan sebuah pemahaman yang sangat keliru dan harus diluruskan. Kekerasan dalam bentuk fisik maupun mental, di mana pun adanya, bukanlah sesuatu yang dibenarkan;

2. Stereotip Keliru kaum Adam. Paradigma yang dianut kaum pria, utamanya masyarakat timur tentang keberadaan perempuan diduga telah mengalami over-perception bahkan missed-perception. Bahwa dalam nilai-nilai Islam laki-laki mempunyai derajat yang lebih tinggi dibandingkan perempuan sebagai seorang imam, khusunya keluarga bukan berarti pria boleh menempatkan perempuan secara tidak hormat.

Persoalannya, nilai-nilai kultural timur disertai pemahaman ilmu agama yang tidak paripurna diduga membuat kaum pria sewenang-wenang tehadap kaum perempuan. Dalam kehidupan yang sangat sulit saat ini, diperlukan kedewasaan yang luar biasa disertai kematangan dalam memahami peran masing-masing anggota keluarga. Situasi sulit saat ini bisa jadi turut mendorong kaum perempuan untuk berperan lebih selain sebagai penanggung jawab urusan domestik. Kondisi ini tentu membawa konsekuensi terlewatinya beberapa hal berkaitan dengan aktivitas domestik. Menyikapi hal ini bila kesepakaatn telah dipahami dengan baik sejak awal, tentu kekurangan-kekurangan yang terjadi tidak lagi menjadi persolan yang kemudian menjadi pemicu bagi kaum adam untuk melampiaskan ketidaknyamanan atau keidakpusannya secara kasar, keras atau brutal terhadap perempuan.

Pemahaman kaum adam dalam memahami peran perempuan memgang peranan sangat penting untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Karena betapapun buruknya degradasi moral yang terjadi dengan bangsa belakangan ini, nilai-nilai kepatuhan perempuan terhadap kaum pria masih menjadi keniscayaan. Artinya, maka pelaku kekerasan terhadap perempuan pun kemungkinan terbesar adalah dilakukan oleh kaum adam, sebagai pihak yang memiliki posisi tawar lebih tinggi dibandingkan perempuan dalam tataran nilai-nilai itu tadi.

Intinya, saat ini kaum pria selayaknya memahami bahwa berbagi peran dalam urusan domestik bukanlah hal yang salah atau merendahkan keberadaan mereka di mata kaum perempuan. Bila kaum adam mengira bahwa kebutuhannya dihormati kaum perempuan daat terwujud dengan mengedapankan kekuatan fisiknya dalam memperlakukan perempuan, maka mereka salah besar. Kaum perempuan akan sangat menghargai kaum pria manakala mereka dapat memperlakukan perempuan dengan hormat dan penuh lemah lembut, bukan sebaliknya, itu kuncinya.

Kekerasan terhadap perempuan akibat missed-recognize
Ketidakpahaman perempuan akan makna kekerasan itu sendiri seringkali membuat perempuan tidak menyadari bahwa sesungguhnya ia telah mengalami kebrutalan perlakuan baik secara fisik maupun mental.

1. Intimidasi. Perhatikan sikap lawan bicara saat terjadi perselisihan. Apabila lawan bicara tidak dapat mengendalikan dirinya dan berbicara dengan mendekatkan tubuhnya ke area privat anda, atau kurang dari 50 cm dengan keberadaan anda, sesungguhnya lawan bicara anda tengah mengintimidasi anda. Sikap seperti ini mungkin disertai dengan mata melotot, tangan menunjuk ke arah wajah anda atau berbicara dengan suara keras dan nada tinggi;

2. Kekerasan fisik. Bila lawan bicara anda mencengkeram pergelangan tangan anda dengan keras, mendorong, menghempas, memukul, menampar, sesungguhnya ia telah melakukan kekerasan fisik kepada anda;

3. Bullying atau menggertak. Bila anggota keluarga anda sering  menghina, melecehkan, mengolok-olok, menyebut anda dengan sebutan yang tidak pantas, sesungguhnya ia telah melakukan tekanan secara mental terhadap anda. Anda dilarang bersosialisasi dengan tentangga untuk arisan, pengajian, bertemu orang tua, bersekolah dalam batas kewajaran tanpa disertai alasan yang rasional atau dibenarkan dalam syariat agama, maka artinya ia melakukan tindakan gertakan mental kepada anda.

BERANI! YANG MAMPU MENOLONG DIRI ANDA PERTAMA KALI ADALAH DIRI ANDA SENDIRI
Tidak perlu takut menghadapi tindakan kekerasan yang anda alami. Sesungguhnya bila manusia tidak melakukan upaya untuk menolong dirinya sendiri padahal ia tahu bagaimana mengupayakannya, maka sesungguhnya ia telah menzalimi dirinya sendiri.

Membela diri sendiri dari tindakan kekerasan bukanlah menyoal urusan gender melainkan perihal kemanusiaan. Pandangan feminis adalah masalah pilihan dan persoalan yang berbeda. Bisa jadi kaum pria sesungguhnya khawatir menghadapi kemandirian perempuan yang berpotensi memiliki pandangam feminis. Padahal tidak semua perempuan memandang pemikiran feminis sesuai dan menjadikannya sebagai pilihannya, bukan?

Intinya BICARA! Bicaralah tentang apa yang anda rasakan agar persoalan dapat diurai dan terselesaikan. Tanpa bicara, persoalan akan semakin pelik dan kekerasan akan semakin menjadi. Jangan ragu meminta bantuan kepada orang tepat. Pilihlah orang yang berilmu (agama), sehat mental-spiritual, dewasa, adil dan amanah. Selamat berjuang Perempuan Indonesia dan tetaplah kuat sepanjang masa!

Published with Blogger-droid v2.0.1

Sunday, 23 October 2011

Komersialisasi ASI vs Donor ASI

Saya tidak ingat lagi kapan persisnya saat saya membaca secara sepintas artikel mengenai donor asi untuk pertama kali. Saat itu yang terlintas dalam benak saya adalah, "Bagaimana hukumnyaa..?"

Tiba-tiba pagi ini saya menemukan akun seseorang dalam salah satu jejaring sosial mengenai kebutuhan donor asi bagi keluarganya. Saya pun kembali berpikir.

Dalam Al Quran, Surat Al Baqarah ayat 233 ditegaskan, "Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan... Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."

Pengelolaan donor asi saat ini dikelola layaknya perusahaan profesional. Pengelola bahkan menyediakan jasa pengantaran (deliveri) untuk permintaan asi. Sungguh menarik.

Bagaimana hukumnya?
Sebagaimana dalam ditegaskan dalam Al Quran, mensusukan anak kepada orang lain tidaklah berdosa. Di sisi yang lain, kemudahan Islam dalam memfasilitasi keterbatasan yang dialami para ibu yang produksi asi-nya sedikit memiliki konsekuensi atau tanggung jawab yang tidak hanya mengenai orang tua si anak yang disusi tapi juga menyangkut masa depan anak yang telah disusui tersebut, yang relatif tidak mudah.

Menyangkut hal itu, Dr. Yusuf Qardhawi menjelaskan bahwa hukum sesusuan tidak akan mengenai orang tua & si anak apabila:
1. Tidak menyusu langsung;
2. Menyusu selama 5 (lima) hari bertutut-turut;
3. Anak berusia kurang dari 2 tahun;
4. Bayi tidak makan apapun kecuali minum asi

Terlepas dari persoalan tersebut, hal yang lebih mendasar mengenai pengelolaan donor asi adalah pada filosofinya. Pada hakekatnya, pemberian asi kepada anak yang bukan darah dagingnya menyebutkan "tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut." Manakala kegiatan ini telah dilakukan secara komersial, maka bagaimana dengan hukumnya kemudian?

Tidak ada yang gratis dalam hidup ini? Mungkin saja. Makna kata "donor" itu sendiri adalah sesuatu yang diberikan secara suka rela dan cuma-cuma. Kenyataannya, untuk mendonorkan darah bagi keluarga sendiri pun kita dipungut biaya.

Sebaliknya, hukum memberikan ASI dalam Islam disebutkan untuk "memberi pembayaran menurut yang patut." Maka apakah pengelolaan bantuan asi ini masih pas disebut sbg donor asi? Wallahualam bisawam....
Published with Blogger-droid v1.7.4

Monday, 10 October 2011

Wuakakak

Wuakakak... Hidup ini... Sungguh lucu. Tak ada keadilan di muka bumi ini... Keadilan hanya milik Tuhan. Masa sih? Terus tugas manusia tuh ngapain dunk yaaa...?
Published with Blogger-droid v1.7.4

Friday, 7 October 2011

Kangen Si Jembrong




Si Jembrong lahir sekitar November tahun lalu, 2010. Ibu Si Jembrong adalah Si Lala, kucing rumahan turun temurun yang dibawa, diungsikan dari Bandung.

Tapi Sabtu malam, 24 September 2011, sekitar pukul 21.15 wib Si Jembrong meninggal. Jembrong sakit terserang virus calisa yang sangat mematikan.

Aku merasa sangat bersalah karena banyak alasan. Tepat seminggu sebelumnya aku sempet ngajak Si Jembrong arisan di Pejaten Village. Berangkt sejak jam 11.00 wib siang Si Jembrong kelihatan sekali tidak nyaman dan kepanasan selama di perjalanan naik si jeruk yang berpendingin udara sekalipun.

Arisan selesai lepas duhur, sepertinya Si Jembrong tersiksa sekali karena suara mall yang sangat berisik terlebih saat kita makan. Si Jembrong pun tidak mau makan. Kami sempat foto berdua sesungguhnya. Dan Si Jembrong juga banyak digendong penyayang kucing yang lain selama arisan. Si Jembrong jadi primadona dan rebutan banyak orang untuk digendong dan dibelai-belai.

Dari arisan, Si Jembrong masih aku ajak halal bil halal si jeruk di pondok indah. Kami baru pulang lepas maghrib. Si Jembrong masih tidak mau makan dan minum....

Tiba di bintaro Si Jembrong langsung aku bawa ke dokter dan sempat disuntik. Sayangnya resep dokter sengaja tidak aku tebus karena aku sudah kecapean karena pergi seharian. Apalagi Si Jembrong ya? Dan aku pun lupa untuk menebud resep Si Jembrong sampai esok harinya dan menganggap Si Jembrong akan baik-baik saja.

Jumat siang, 23 September 2011 lepas jumatan aku ditelpon bapak katanya Si Jembrong sakit sudah lemes sekali. Setelah minta tolong sana-sini akhirnya Si Jembrong bisa diantar ke dokter dan langsung diinfus.

Segera setelah pulang kantor aku langsung mampir nengok si Jembrong yang ternyata kondisinya sudah sangat payah & lemah. Aku memang selalu berusaha memberi semangat Si Jembrong. Dan Si Jembrong selalu merespon sapaanku dan berupaya keluar dari kandangnya walaupun terhuyung-huyung. Dan saya harus membujuknya agar mau kembali berbaring agar infusnya dapat mengalir baik.

Saat itu aku selalu bilang, walaupun sakit Jembrong tetap kucing yang paling cantik di dunia. Virus calisa menyebabkan air liur terus mengalir keluar dari mulut Si Jembrong serta mengeluarkan aroma yang anyir. Aku juga selalu mengajak Si Jembrong mengaji, membaca Surat Al Fatihah dan terus beristighfar.

Esok paginya, nafas Si Jembrong semakin keras bunyinya dan Si Jembrong tampak semakin susah bernafas. Si Jembrong pun dibantu dengan oksigen agar dapat bernafas. Semalam kandangnya pun sempat diberi lampu penghangat karena suhu tubuh Si Jembrong sempat menurun.

Pagi itu aku sempat besuk Si Jembrong 2x dan mengusapkan air zam-zam. Tapi nampaknya Si Jembrong juga terkena virus vip yang menyebabkan tubuhnya dipenuhi cairan di area abdomennya. Si Jembrong semakin kritis.

Menjelang siang aku pamit sama Jembrong mau jemput ibu di blok m. Aku bilang, segera setelah jemput ibu aku akan besuk Jembrong lagi. Aku selalu membesuk dan meninggalkan Si Jembrong di dokter dan menyapanya dengan "Assalamualaikum".

Tepat jam 21:00 wib aku besuk Si Jembrong lagi. Kondisinya sudah sangat payah. Aku memaksa dokter untuk mengeluarkan Jembrong supaya bisa mengobrol di meja periksa di ruang dokter.

Saat Jembrong sudah dibaringkan, Jembrong masih saja berusaha untuk berdiri. Air mata aku sudah tidak tertahan lagi. Aku mendekatkan wajahku ke wajah Si Jembrong sambil bicara, "Jembrong, kalau Jembrong sudah tidak kuat, tidak apa-apa. Kalau Jembrong sudah mau pulang, tidak apa-apa, yang ikhlas ya. Aku minta maaf lupa menebus obat. Aku minta maaf suka slentik kuping Jembrong kalau Jembrong pupup sembarangan di dapur. Maafin aku ya Jembrong aku tidak memperhatikan Jembrong saat di awal sakit di kemarin..." aku berlinang air mata. Subhanallah... Jembrong bereaksi terhadap setiap ucapanku. Jembrong mengerti loh kalau aku minta maaf dan Jembrong bereaksi dengan mengatupkan kedua matanya dengan lemah setiap kali aku bertanya. Aku terus mencium kebingnya.

Setelah pembicaraan yang sangat dekat itu... Aku pamit pulang....

Si jeruk baru saja naik ke car pot dan mesin belum juga kumatikan. Telepon seluler sudah berdering dari dokter. Aku tanya, "Si Jembrong meninggal ya, dok?" Drh. Endang memastikan dengan sanga menyesal.

Aku segera kembali ke dokter menjemput Si Jembrong yang sudah terbungkus koran di dalam dus bersiap untuk dilakban. Aku meminta dokter untuk mengeluarkanya. Si Jembrong pun kembali dikeluarkan dari dalam dus dan dengan hati-hati dilepaskan dai bungkusan koran....

Aku ga tahan lagi... Lihat tubuh Jembrong yang sudah tidak bernyawa. Melihat bulunya yang panjang sangat indah putih hitam kuning coklat keemasan... Ekornya yang lebat membuat Si Jembrong semakin cantik.

Sambil terus menangis aku meraih jasad Si Jembrong dalam pelukan. Tubuhnya masih hangat dan lembut. Aku menggendongnya terus sambil mengendarai si jeruk tiba di rumah.

Maka tengah malam itu pun saya sibuk mencari satpam untuk menggali kubur untuk Si Jembrong. Berbalut handuk mandi ukuran sedang, Si Jembrong aku kuburkan... Menghadap kiblat dan wajahnya pun mencium tanah. Semua makhluk ciptaan Allah SWT adalah Islam... Begitu pun Si Jembrong.

Hingga hari ini rasa menyesal seperti masih di hati. Si Jembrong yang suka menggigit kabel telepon hingga semua kabel ponsel ku pun putus tak bisa dipakai. Suaranya yang lembut dan wajahnya yang innocent membuat aku selalu kangen Si Jembrong.

Selamat jalan Jembrong sayang... Maafkan aku yaa... Demi Allah maafkan aku bila aku lalai menjagamu. Selamat berjumpa Allah SWT Sang Pencipta... Di surga... I love you Jembrong... Terima kasih sudah memaafkan kesalahanku... Assalamualaikum.
Published with Blogger-droid v1.7.4

Monday, 22 August 2011

MAKSUD HATI ....

Maksud hati ingin pindah kerja, apa daya tangan tak sampai. Maksud hati ingin ga' ada di sini lagi, apa daya tak mungkin melampaui fitrah sebagai istri dan sebagai seorang muslim.

Menghabiskan waktu hampir sepuluh tahun lamanya di tempat yang sama, tanpa kemajuan yang 'nendang' sungguh sangat menguras energi. Semua isi hati terkuras untuk berkompromi, bertoleransi dengan semua kemandekan ini.

Tapi sepuluh tahun hampir lamanya waktu terbuang begitu sia-sia. Saya tidak berkesempatan melakukan apa-apa. Saya tidak berkesempatan mengembangkan diri dan kemampuan saya. Saya merasa sangat tidak berguna.

COMFORT ZONE YANG MENGERIKAN
Begitu banyak keuntungan untuk tetap berada di sini. Nama besar, pasti. Keamanan, apalagi. Nyaris tak pernah terdengar pegawai dipecat di sini, kecuali untuk hal yang sangat merugikan dan karena melakukan kesalahan yang prinsip. Bahkan jarang pula terdengar ada pegawai yang mengundurkan diri. Kalaupun ada, angkanya bisa dihitung dengan jari tangan.

Mungkin hanya di sini, pegawai berhak cuti besar 3 (tiga) bulan lamanya setiap 6 (enam) tahun sekali. Itu pun masih diberi uang saku 1 (satu) bulan gaji. Itu pun bila hak cuti besarnya tak ingin dinikmati semua, masih bisa dijual dengan kompensasi uang lagi.

Bila pasangan berdinas di luar daerah/negeri, bahkan pegawai boleh cuti di luar tanggungan perusahaan setahun lamanya dan bisa diperpanjang. Kelar itu, pegawai bisa balik lagi bekerja di sana. Menginjak usia 56 tahun, mengakhiri masa tugas, maka uang pensiun akan dinikmati setiap bulannya.

Kesehatan, nyaris 100% ditanggung. Bahkan pegawai perempuan pun tidak lagi dikategorikan sebagai lajang. Maka pegawai perempuan berhak atas biaya pengobatan bagi keluarganya hingga 3 (tiga) orang anak.

Gajian, haduuuuhhh ... hampir 20 kali gaji dalam setahun ! Di sini, gajian dibagi dalam 2 (dua) termin, setiap tanggal 15 dan tangal 30, enak kan ? Pinjaman, paling lama 5 (lima) tahun sekali ada pinjaman lunak yang besarnya mencapai 5-10 kali gaji mungkin, cukup signifikan-lah maksudnya. Makan, gratis makan siang !

Masih banyak berderet kenikmatan yang bisa dirasakan bila berada di sini. Jam kerja yang sangat ramah buat keluarga, keberadaan kantor pusat di daerah yang super duper strategis, bingkisan sembako setiap lebaran, koperasi yang bisa dihutang langsung potong gaji, dan lain-lain dah ! Tapi hidup 'kan bukan cuma itu ? Bahkan hidup prioritasnya 'kan bukan itu ? Keutamaan hidup itu kedamaian, ketenangan, kebahagiaan hati karena ridho Allah SWT. Dan itu bukanlah hal yang mudah .....

OUT OF THE BOX or OUT OF THE BOSS ?
Hahahaha ... Tapi hidup ini kan tidak selamanya melulu soal uang ? Betul, manusia butuh uang. Tapi uang bukan segala-galanya. Kebahagiaan bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan uang.
Menurut Teori Maslow, kebutuhan manusia yang tertinggi adalah aktualisasi diri, mengekspresikan diri, menunjukkan kemampuan dirinya agar bermanfaat bagi lingkungannya. The problem is, I cann't do it here.

Maybe, this has been a wrong place for me. Although I have been wasting my time almost for ten year here. But I am sure that I will find another good place with a better environment and brighter future.

Above of all, having a job is such a big thing that deserve to be grateful. Alhamdulillah. But on the other hand, we have to do something that giving ourselves getting better as a human being. We will not wasting time for doing nothing, won't we ? Having our own money without real working is so weird. It's not fair.

ONCE MISTAKE ?
Bagai kejatuhan durian runtuh, di hari yang sama 2 (dua) tawaran pekerjaan yang jauh lebih hebat datang suatu hari. Sekuat hati berjuang meyakinkan suami dan orang tua. Saya menginnginkan kesempatan ini. Ini memang bukan yang pertama. Begitu sering kesempatan itu datang. Tapi begitu sering pula 'permintaan' menghadang. Permintaan untuk bertahan. Maka kali ini, saya sungguh-sungguh ingin dimengerti ....

Maybe I was wrong, maybe not. I know what I want. I know that I have a good ooportunity. I know that I can compete. But on the contrary I just can't make it happen.

Is it a mistake being a moslem ? Or would it be more mistake being a moslem wife ? I am so sure with all I've done so far. I am so sure with my decision. But I also sure about Allah SWT's rule. Hence, the problem getting absurd.

I can't choose between what I want and what my husband say. As a moslem wife, I clearly understand that I have to obey every single word of my husband say. Hence, alhough I know everthing how to get my new job, but I can't against Allah SWT's rule. The fact, my husband doesn't allow me to resign and getting the new job. I was lost it finally ....

I am so suffer for being lost of a golden opportunity. I am so pain for meeting with all the people here. I am so hopeless every single morning for going back here.

THE MOST IMPORTANT THING IS, COMMUNICATE
I don't care everything now but my life. I need to rescue my life. I think I deserve to be happy. I am not a volunteer for being bullied or being hurt by everyone here.

I am so glad that I can talk to him, the CEO on Monday, 1st August 2011. I chat to him as my boss, as my friend, and as my dad if he doesn't mind, that what I said to him in the beginning. I said, that actually I have printed my resignation letter last night, Sunday, 31st July 2011. It should be given to him. I said that I just want to quit from work, as I have a very good opportunity.

I explained to him that, wasting almost for ten years wasn't making me better. On the contrary, I felt getting more stupid. I am not happy being here at all. And it's so hurt.

I can't use my competency appropriately here as the management doesn't need about it yet. That's  impossible for me to push the company to know better about something if they don't think that they do need it. Hence, it should be me who need to jump to another place that need my ability appropriately. And I was so happy that I was offered a good opportunity. Then, it was a perfect time for me to seize it !

The problem is, my husband doesn't allow me to quit. Hence, I have to stay here and facing all the suffer, again... I said that, I can't let my self for doing nothing, being hurt and being bullied for 18 years ahead. It doesn't make a sense ! Oh my Good, I only need to work.

I NEED TO JUMP
But, that's a life. I can't against Allah SWT's rule. It's not easy, yes. It takes time to deal with this situation normally, sure. But I also need to release my pain, of course because I 've just a human being.

I need to jump because I want to make myself meaningful to everyone arround of me. I need working. I need space. It's so hurt for seeing mistakes that I can't fix it at all. It's all about culture that's been built for decades. They love to live just the way the were. They have their own values that maybe for me looks weird. They don't want change.

So, I need to hijrah. I don't want to change them, too. It's okay, maybe they don't need my energy now. It doesn't mean that I am a looser then. But I have my own life. I can't wait. I have to make achievement for myself. I can't ask everyone to make it for me. I have to make it by myself. I have to build my dreams come true.

I don't wanna be hm .. career woman. No ! I am not a workaholic. I just want to be something. I need to release my energy positively. I need to be meaningfull. That's all.

I am sure, that Allah SWT will give me more opportunity that will come in a perfect time for me, for my husband and for my family. I know it would be good for me to be patient and I will do it. I know the time will come, I know there are always golden opportunities that Allah SWT has already prepared for me ... Inssya Allah ... Amin ....

Tuesday, 10 May 2011

KECURANGAN PENGUMPUL PINTU TOL

KECURANGAN BERULANG
Selasa, 10 Mei 2011, 18.30 wib, saya melintas di pintu tol Pondok Ranji Bintaro, mengarah pulang, di kawasan Bintaro, Sektor IX, Tangerang Selatan. Seperti biasa, seringkali saya menerima kembalian uang pembayaran berupa tumpukan uang logam yang terbungkus struk pembayaran pintu tol. Malam itu, saya membayar dengan uang pecahan Rp. 5.000,- Sementara tarif yang harus saya bayar adalah Rp. 2.000,- jadi seharusnya saya menerima kembalian Rp. 3.000,-

Saat uang kembalian saya terima, saya merabanya masih dalam bungkusan struk, dan saat saya memastikan untuk melihatnya, saya pun segera tahu bahwa uang kembalian yang saya terima jumlahnya tidak sebesar yang seharusnya saya terima.

Kejadian seperti ini sangat sering terjadi, saat petugas pengumpul tol (demikian jajaran SDM Jasa Marga menyebut para petugas pintu tol) memberikan kembalian yang tidak sesuai dengan jumlah yang seharusnya. Pengalaman semalam, adalah pengalaman yang sudah yang kesekian kali. Bayangkan saja, saya setiap hari melintas di pintu tol ini saat berangkat dan pulang kerja. Maka kejadian seperti ini sangat menjengkelkan. Bukan karena kembaliannya kurang Rp. 500,- tapi sikap para petugas pengumpul tol itu yang sangat mengecewakan pengguna jasa jalan tol.

Rp. 7.2 MILIAR SETAHUN !
Bayangkan, bila seorang petugas pengumpul tol dalam sejamnya melayani sedikitnya 500 mobil saja, dan ia mengambil Rp. 500 dari setiap kembalian bagi mobil yang melintas, itu artinya ada nilai sebesar Rp. 250.000,- dalam sejamnya. Bila ia bertugas sedikitnya 8 jam dalam sehari, itu artinya ada uang senilai Rp. 2 juta yang ia ambil. Bila ia bertugas selama 5 hari kerja dalam seminggu, artinya ada uang Rp. 10 juta dalam seminggu. Bila sebulan ada 4 (empat) pekan, itu artinya ada uang sebesar Rp. 40 juta. Bila dalam setahun ada 12 bulan, maka artinya ada uang sebesar Rp. 480 juta yang diambil dari pengguna jalan tol.

Itu baru satu orang. Bila dalam sehari sedikitnya ada 5 (lima) gardu yang dibuka dalam satu pintu tol, berarti ada Rp. 480 juta x 5 orang, maka nilainya menjadi Rp. 2.4 miliar dalam setahun, dalam satu shift. Padahal dalam 24 jam setidaknya ada 3 (tiga) shift, berarti angka itu menjadi Rp. 7.2 miliar dalam setahun !!!!! Angka itu belum menghitung akhir pekan Sabtu dan Minggu yang berjumlah 104 hari, maka angkanya akan semakin mengejutkan ! Bagaimanapun mekanisme pembagian shift petugas pengumpul pintu tol, itu tidak mengubah angka yang mungkin terkumpul dalam kecurangan ini. Karena pada prinsipnya pintu tol melayani 24 jam dalam sehari, 365 hari dalam setahun ! Bayangkan, bila angka itu terjadi di hampir seluruh pintu tol yang ada di Indonesia !!!!

SELAMAT MELAKUKAN PERBAIKAN !
Maka, sebaiknya saat anda berniat melintas di pintu tol, siapkanlah uang pas. Bila tidak ada, sempatkanlah untuk menghitung kembalian walaupun terpaksa menyita waktu beberapa saat dan membuat pengantri di belakang menunggu.

Hal ini semata-mata untuk meningkatkan kinerja dan menumbuhkan kembali itikad baik dan nilai2 kejujuran yang seharusnya dimiliki oleh seluruh insan bangsa ini. Hubungi layanan pengaduan pintu tol Jasa Marga dan simpanlah nomor tersebut dalam telepon genggam anda. Para petugas layanan PT. Jasa Marga sangat kooperatif menerima aduan anda dan akan segera menghubungi anda kembali kurang dari 24 jam. Sebagaimana yang dilakukan oleh penanggung jawab pintu tol Pondok Ranji Bintaro kepada saya pagi ini melalui telepon genggam pribadinya. Saya sangat menghargai niat baiknya itu.

Saya tidak bermaksud untuk merugikan atau mengadukan oknum petugas pengumpul tol, tapi saya menginginkan negara ini dikelola secara bertanggung jawab di setiap lininya, sebisa mungkin. Saya juga tidak bermaksud untuk meminta kembalian uang tol. Saya, semata-mata hanya ingin kebaikan bagi semuanya. Well, selamat memperbaiki diri untuk kita semua !

Thursday, 10 February 2011

INDONESIA RAYA DI KELURAHAN

Pemberitaan 'breaking news' Metro TV semalam, Kamis, 10 Februari 2011 sangat penuh dengan inspirasi. Diberitakan bahwa, Pejabat Lurah Kelurahan Halim Perdana Kusumah, mewajibkan siapapun yang hendak melakukan pengurusan dokumen amupun administrasi di Kelurahan tersebut untuk menyanyikan lagu kebangsaan "Indonesia Raya" !

Yuswil Rasyid, sang Lurah menegaskan, bahwa kebijakan itu sebagai hal yang wajar. Menurutnya, siapapun yang mengaku sebagai warga negara Indonesia, maka harus mampu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Maka, tak heran bila tak satu pun warganya yang menolak bila disyaratkan harus menyanyikan lagu kebangsaan tersebut sebelum melakukan pengurusan. Tak ada pula yang protes atau kecewa, manakala para warga tersebut terpaksa pulang dengan tangan hampa, lantaran mereka tidak berhasil menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan baik. Seorang ibu setengah baya yang sempat diwawancarai bahkan merasa sangat senang dnegan kebijakan tersebut. Ia pun mengakui merasa merinding, saat menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Dalam tayangan Metro TV semalam, terlihat dua orang pelajar SMA, seorang ibu keturunan china sambil menggendong anak, seorang pemuda dewasa, dan seorang bapak tua tampak membentuk barisan paduan suara kecil dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dipimpin oleh salah seorang pelajar perempuan SMA, dan disaksikan oleh 2 (dua) orang petugas Kelurahan.

Tak bisa dipungkiri, setiap kali lagu Indonesia Raya berkumandang, terlebih bila kita sebagai Warga Negara Indonesia, turut menyanyikannya, pasti akan merasakan kharismanya. Cobalah rasakan kekuatan lagu karya Wage Rudolf Supratman ini, "Bangunlah jiwanya, Bangunnlah badannya, untuk Indonesia Raya ! Indonesia Raya, Merdeka ! Merdeka ! Tanahku Negeriku, yang kucinta !"

Thursday, 27 January 2011

Profesor HARSONO SUWARDI

PESAN SINGKAT DILLA
Rabu, 26 Januari 2011, sekitar dhuhur, sebuah pesan singkat dari seorang sahabat, Dila, mengabarkan, "Mbak, Prof. Harsono masuk ICU, RSCM." Saya langsung menghubungi Dila, sayang dia tak tahu banyak kabar mengenai sakitnya sang profesor. Saya pun menghubungi paska UI. Mas Agus, yang menerima telepon saya hanya mengabarkan beliau dirawat di gedung baru, RSCM Kencana. Saat itu Pak Edu, Pak Pinckey dan seorang dosen yang lain tengah membesuk. Saya lalu menghubungi Pak Edu, tak berhasil.

Berikutnya, saya menghubungi Rere. Saya minta tolong padanya agar segera mengabarkan kepada teman-teman lainnya alumni paska UI. Mendengar kisah betapa Prof. Harsono sangat berjasa dalam hidup saya, Rere pun setengah menghardik, "Lu sudah dianggap seperti anak angkatnya, kalau lu ga tungguin dia di rumah sakit kebangetaaaaannn ... !!!" begitu katanya.

Semula, saya sudah memutuskan akan membesuk beliau sore kemarin pulang kantor. Tapi sepertinya saya akan tiba di Bintaro larut malam kalau hedak besuk beliau di Salemba sepulang kantor. Saya membayangkan kemacetan Jakarta akan membuat saya 'gilaaaaa.' Saya pun akhirnya memutuskan membesuk beliau esok hari.

KETUA ANGKATAN-6 YANG DROP OUT
Saya mendaftarkan kuliah S-2 manajemen komunikasi pada 1999. Saya terdaftar sebagai angkatan ke-6. Saat itu, biaya kuliah per-semesternya Rp. 5,9 juta. Pada semester pertama, ditambah dengan biaya lain-lainnya, maka saya harus membayar Rp. 6,5 juta.

Saat itu, angkatan ke-6 memiliki 2 kelas. Saya ada di kelas A. Saya dipercaya sebagai ketua angkatan. Wakil saya, Dede, cowok baik hati yang kala itu bekerja di UNDP. Di awal tes masuk S-2 inilah saya bertemu Rere, sahabat yang kini menjadi soul-mate saya lebih dari sepuluh tahun lamanya ....

Menginjak semester ke-3, saya droup out (DO). Saya tidak punya biaya, saya tidak sanggup membayar uang kuliah. Meski begitu, saya nekat kuliah terus dan mengikuti ujian dan tetap mendapatkan nilai. Nilai-nilai saya bagus semua, mayoritas A dan IP saya rata-rata 3,5.

Saya DO di semester gasal tahun 2001. Air mata saya sampai kering dan asli tidak mengeluarkan air mata kala saya menangis, meratapi kegagalan saya melanjutkan kuliah. Saya berupaya keras meminta bantuan rektorat untuk mendapatkan kebijakan sehingga saya dapat menyelesaikan kuliah. Tapi seorang ibu pejabat rektorat yang saya temui sungguh galak dan tidak berperasaan ! Saya pun terpaksa menerima ke-DO-an saya dengan masgul.

DANA TALANGAN PRIBADI PROFESOR
Saya pun menemui Prof. Harsono. Beliau pula sesungguhnya yang menjadi dosen pembimbing thesis saya, yang juga gagal pastinya karena saya DO. Beliau lalu menyarankan agar saya mengulangi lagi kuliah dari awal, dengan biaya pribadinya ! Beliau meminjamkan tabungan pribadinya untuk saya, dan saya boleh mencicilnya 4 atau 5 kali dalam tiap semesternya ! Subhanallah !

Saya pun menuruti sarannya. Saya kembali mendaftarkan diri untuk mengikuti tes masuk. Seperti biasa tes TPA berlangsung di Depok. Saya berangkat dari kos-kosan saya di bilangan Cibulan menggunakan bajaj hingga seputar lampu merah kalibata di jl. raya pasar minggu, lalu menumpang sebuah bis patas ac hingga UI Depok.

Alhamdulillah saya lulus dan diterima sebagai mahasiswa paska UI, manajemen komunikasi angkatan ke-9. Kali ini biaya kuliah per semesternya sekitar Rp.7,5 juta. Ditambah dengan biaya lain-lainnya, saya harus membayar sekitar Rp. 8,5 juta di semester pertama. Sesuai tawarannya, maka Prof. Harsono pun membiayai kuliah saya, dan saya mencicil sesuai kesepakatan.

Demikianlah kisahnya, perjalanan hidup saya meraih cita-cita dan peran serta bantuan nyata Prof. Harsono Suwardi sangat menentukan kesuksesan dan nasib yang telah saya raih saat ini dan yang akan terus saya raih hingga nanti ! Beliau menjadikan saya seorang master komunikasi dengan tabungan pribadinya kepada saya, mahasiswanya yang putus sekolah karena tidak punya uang ! Alhamdulillah ....

PROFESOR & CERUTU
Mungkin, karena kebiasaannya suka menghisap cerutu, Prof. Harsono pun menderita sakit paru-paru dan dirawat di ICU RSCM Kencana pada Rabu, 26 Januari 2010 pukul 02.00 wib dini hari.

Saya meninggalkan kantor Kamis, 27 Januari 2011 pukul 11.00 wib. Sesungguhnya pukul 11.30 wib saya sudah tiba di depan RSCM, tapi hingga pukul 12.30 wib saya meninggalkan area parkir RSCM saya tetap tidak menemukan lahan parkir untuk si jeruk kesayangan saya. Saya akhirnya memutuskan memarkirkan si jeruk di kampus UI dekat FE, persisnya dekat kamar mayat.

Saat saya tiba di koridor ruang ICU RSCM Kendana dan berdiri di balik kaca, saya langsung bisa melihat wajahnya yang putih, sisirannya rapi, necis, perlente, seperti biasanya walaupun kali ini tanpa baju karena sejumlah alat menempel di tubuhnya.

Spontan, saya langsung melambaikan kedua tangan saya. Beliau dengan ragu merespon lambaian tangan saya. Saya berusaha masuk ke dalam, tapi rupanya sang suster tidak mengijinkan. Saya pun meminta suster sebuah kertas dan alat tulis agar saya dapat meninggalkan pesan untuk beliau. Sebab saya lihat tadi, beliau dirawat sambil terus memegang sebuah koran ! Hahahaha ....

Saya lalu menuliskan catatan dalam selembar kertas putih. Saya kenalkan lagi diri saya, saya khawatir beliau lupa karena pasti beliau punya banyak mahasiswa. Saya ingatkan bahwa beliau telah banyak membantu saya dengan membiayai saya kuliah. Saya ceritakan saat ini saya sudah bekerja di perusahaan yang kegiatannya sangat langka dan tidak dimiliki oleh setiap negara di dunia. Saya bilang, hebat ya saya, mahasiswa bapak ? Saya juga bilang semoga beliau cepat sehat dan banyak istirahat. Salam Rere, sahabat yang sempat saya hubungi saat di area parkir RSCM tadi juga saya sampaikan.

Saat catatan itu akan diserahkan ke Prof. Rupanya beliau telah tertidur. Maka saya hanya memandangi wajahnya saja dari balik kaca besar. Beruntung, tiba-tiba beliau terbangun. Maka saya segera memberi kode kepada suster untuk menyerahkan tulisan tangan saya. Beliau lalu membacanya, perlahan. Tiba-tiba beliau menunjukkan kedua jempolnya untuk saya, hebat katanya. Sepertinya beliau tengah membaca di bagian pekerjaan saya. Saat selesai membaca semua catatan saya, beliau lalu mengangguk-angguk.

Lalu saya dan belaiu terlibat pembicaraan dengan bahasa isyarat. Terbatas oleh jarak dan dinding kaca lebih dari 4 meter, beliau di dalam, saya di luar, di koridor. Tepat pukul 13.00 wib. Saya bilang saya mau pulang. Saya sudah sebutkan dalam catatan saya tadi, bila beliau sudah pindah ke kamar rawat inap, Inssya Allah saya akan datang lagi. Saya lalu memberi kode pada belau untuk tidur dan saya pamit sembari mengatupkan kedua tangan. Beliau pun melakukan hal yang sama melepas kepergian saya.

Pffffh ... lega rasanya. Panasnya jalanan protokol Jakarta, sulitnya mencari parkir di area RSCM hingga satu jam lamanya, dipotongnya gaji saya karena ijin meninggalkan kantor di saat jam kerja terasa impas melihat kondisi beliau. Suster bilang, bila kondisi beliau terus membaik, sore ini atau besok pagi beliau akan masuk ruang rawat inap.

Prof, terima kasih sudah mengijinkan saya melakkukan sesuatu yang kecil untuk semua jasa baik yang Profesor telah berikan untuk saya. Saya tidak akan menjadi seperti saya saat ini, seorang master komunikasi yang beruntung kuliah master 2x (hahahaha) tanpa budi baik dan jasa Profesor Harsono. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kemuliaan atas ketulusan seorang pendidik yang sebenarnya, guru besar ilmu komunikasi paska UI, Profesor Harsono Suwardi.

Monday, 10 January 2011

MY RESOLUTION IN 2011

THE RESOLUTION
I know this is not easy at all. Especially at this momment, it is not easy to get a good job with a good money.

I have dreamt to get a better job for years. I even have already mentioned it into my previous resolutions years ago but I have not made it happen yet so far. But I will not give up. I will struggle for it. The reason is I need to release my energy and contribute my compentencies professionally at the right place.

Right, working is not all about money. Working is more about the way to expres our self actualization. Money is important but if there is no fairness arround of you at work, hence you wouldn't be happy at all with the job although you are paid with a lot of money.

I did get all my resolutions last year but the new job ! I got a new - bigger house, I've already joint an English Course at the best institution one, and I bought my piano ! That's all, but I didn't get a new job !

Well, something about material is not interesting any more for me. At least, getting a new job absolutely the most important issue for me right now. I also want to go for hajj this year. At least umroh. I have failed last year although I have already started saving money for it.. Hence, I have to work hardly for it.

I WAS HAPPY
I was happy with my job almost 14 years ago. Although it wasn't suitable enough with my academical background but many reasons for me to happy with that. I have a very, very, very friendly boss ! He's smart, good in leadership, open minded and he is not a descriminant ! He's young, talented and knows well about his follower competenicies.

I was surprised when he was going to China for business trip for almost 2 months, actually he has already arranged me a fully training program arround the company. I have no idea, but one by one, the factory managers invited me for training on the continuity schedule. Exactly well program !

He's young, objective and respect to all of his variety followers. He is absolutely inspired us. He's sportive and care. He was carrying us into a big warm family. We are solid because of him and everyone knows about it.

He trusts his followers and delegates assignments appropriately. I almost can't find his weakness ! He's such a wise leader who brings his ordinary followers became nice followers who loves each other as a team ! Winning team !

I have the most wonderful friends that I am still keep and touch untill today. I am so greatful to have them as my family. They are so nice, warm, friendly, and care ! I have never found a crime-friend there !

Mr. Rendy Roedianto, frankly speaking, you're such a marvelous boss for us. You taught us manything to be a good employee who has spirit and goals for ours future. You were 33 years old at that moment, but you are so awesome as a boss !

THE FACT
The fact, I am still here. I have been here almost a decade. Yes, I am not happy. And yes, I have been bullyed cruelly for years. But yes, I have to face it all rationally. As soon as I get the opportunity, I will run !

Today I have to compromise with the situation rationally. I do not need to destroy everything because I was hurt. No ! I am so glad that I have had opportunity for years to observe directly into the most weird working situatiation that I have never seen before ! Hence I've learnt so many thing free in charge.

I have to realize that I am not to be needed here appropriately. I have been in the wrong place at the wrong time with the wrong people. It doesn't necesary to blame it to some one else. No one's wrong about this difficult situation. At least they have ever tought that they needed me. In fact, they do not know how to have it from me. It's okay !

The most important thing is, I have integrity as a proffesional, as a moslem, a human being, to do anything correctyl as long as I can. Well, because I've just a human being, sometimes we do the wrong things right ? But I do still have a commitment to myself, to improve and getting better, once again as a professional, a moslem and as a human being. I am sure, the times will come at the perfect time for me ! Inssya Allah !

Monday, 27 December 2010

BEDA GELOMBANG

SETELAH SEMBILAN TAHUN
Belum lama ini saya berkesempatan mengikuti assesment bersama ratusan pegawai lainnya di lingkungan perusahaan. Alasannya bukan untuk promosi, tapi untuk pemetaan pegawai katanya. Ah, tidak seberapa penting juga sih alasannya buat saya. Hahahaha, sebagai penggembira saya mah ikut saja, selagi gaji saya tidak dipotong, apapun alasannya, yuuuuk mariiii ... ya gaaaak ?

Nah, yang menarik ternyata bukan soal asssesment yang baru pertama kali saya ikuti setelah hampir sepuluh tahun bekerja, tapi ternyata saya jadi teringat tes-tes serupa yang pernah saya jalani selama ini. Tanpa saya sadari, ternyata saya telah bekerja secara formal, normatif memang hampir lima belas tahun. Namun secara informal, saya sudah bekerja sejak usia lima belas tahun saat menjadi penyiar radio semasa SMA di kampung dulu selama 3 (tiga) tahun berturut-turut.

Selama hampir lima belas tahun bekerja, setidaknya saya pernah mengikuti assesment dan wawancara di sejumlah perusahaan, antara lain :
  1. PT. Pura Barutama, Kudus, Jawa Tengah, Desk Publishing, Executive Secretary to VP
  2. Henkel Pharmaceutical, Semarang, Jawa Tengah, Public Relations
  3. Ciputra Mall, Semarang, Jawa Tengah, Public Relations
  4. Departemen Luar Negeri, Yogyakarta & Jakarta, Caraka Muda
  5. PT. DAI NIPPON, Jakarta, Rotogravure Manager
  6. PT. Royal BodyCare Indonesia, Jakarta, Corporate Secretary
  7. PT. Indonesia Power, Jakarta, Public Relations
  8. PT. HM. Sampoerna, Jakarta, Media Relations Specialist
  9. Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang
  10. PT. Pertamina, Jakarta, Media Relations Manager
  11. Chevron Indonesia, Jakarta, Public Relations
  12. IMIDAP, UNDP, Media Relations Specialist
  13. Perusahaan Minning, Government Relations, Jakarta
  14. Universitas Bakrie, Jakarta, Communication Lecturer
  15. President University, Jakarta, Public Relations Manager
  16. PT. Mitra-TELKOM Indonesia, Jakarta
  17. ,Corporate Communication
  18. Universitas Pembangunan Jaya, Communication Lecturer
  19. Swiss German University, Jakarta, Communication Lecturer
  20. dll.
Sepertinya masih banyak lagi undangan assestment dan wawancara yang pernah saya lakoni. Beberapa di antaranya saya menangkan, walaupun belum tentu juga saya ambil pekerjaan itu. Banyak pula di antaranya yang saya gagal karena berbagai alasan, bisa jadi karena saya memang tidak memenuhi kualifikasi, ada pula yang kesepakatan tidak tercapai, dan berbagai alasan lainnya.

Saya menikmati semua pengalaman tes assestment maupun wawancara yang pernah saya jalani. Pada saat-saat seperti itu saya bisa bertemu dengan banyak orang hebat yang berhasil dan membuat saya terkagum-kagum. Saya juga berkesempatan melakukan obeservasi singkat saat memenuhi undangan assestment maupun wawancara di berbagai perusahaan besar itu mengenai orang-orang yang bekerja di sana, petugas pengamanannya, hingga iklim juga kebersihan toiletnya. Sebagai seorang praktisi humas, saya terbiasa memperhatikan banyak hal seperti itu.

YANG PERTAMA SELALU INDAH LUAR BIASA
Pengalaman assesment saya yang pertama adalah tahun 1996, di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. PT. Pura Barutama, demikian nama perusahaan itu, memang berada di kota kecil, Kudus, sekitar 72 km ke arah timur dari Semarang. Walaupun berada di kota kecil, namun perusahaan yang saya lamar itu ternyata bukan perusahaan main-main yang kecil keberadaannya. Saat itu saja, perusahaan itu sudah memiliki pegawai sekitar 8.500 orang. Bila satu orang pegawai menghidupi 4 orang dalam sebuah keluarga, itu artinya perusahaan itu sudah menghidupi nyaris 25.000 orang ! Luar biasa bukan ?

Yang sangat menarik saat saya memperoleh pekerjaan di sana, saya mendapatkannya saat saya berulang tahun ke 23 ! Hahahaha, saya serasa dapat hadiah ulang tahun paling asik deh, dapat pekerjaan formal yang pertama hanya berselang 3 (tiga) bulan setelah saya lulus wisuda sarjana S-1 ! Yang tak kalah lucu, saat melamar sesungguhnya saya melamar posisi Desk Publishing. Namun saat proses tes berlangsung, seorang sekretaris senior justru menawarkan saya sebagai sekretaris direktur ! Namanya juga baru pertama kali, menanggapi tawaran itu saya enteng saja. Ya silakan saja, karena merekalah yang lebih tahu bagaimana hasil tes saya. Bila berdasarkan hasil tes itu kemampuan saya dianggap memenuhi syarat, saya tidak keberatan mencoba. Maka, saya pun diterima sebagai sekretaris direktur pemasaran ! Alhamdulillah !

Nah, giliran mulai bekerja pun tak kalah menggelikan. Saat saya masuk bekerja hari pertama, bos saya pun tak ada ! Padahal, saya ini bekerja sebagai Sekretaris Direktur Pemasaran. Rupanya beliau sedang melakukan business trip ke China sebulan lebih lamanya ! Hahahahaha !

Saya bekerja di Kudus dua setengah tahun lamanya. Bos saya itu masih 33 tahun saat saya bekerja untuknya yang masih bau kencur 23 tahun. Beliaulah yang telah banyak berjasa membuat kemampuan Bahasa Inggris saya menjadi lebih baik. Walaupun saya in charge sebagai Secretary to Director, tapi beliau mendelegasikan pekerjaan melampaui itu, sesuai kemampuan dan kompetensi saya sebagai seorang public relations.

Setiap kali dia business trip, beliau selalu meinggalkan saya dengan pekerjaan merenovasi ruang kerja seluruh divisi, training seluruh lini produksi, hingga turun ke pabrik mem-follow-up problem teknis di lapangan dan berkoordinasi dengan beliau yang berada di China ! Saya bahkan diserahi urusan pabx, mengurus SIM internasional, dan menyambungkan pembicaraan long distance Presdir di Guest House Kudus dengan beliau di China, sementara saya bekerja dari meja kerja head office !

Selama bekerja di Kudus itulah saya berkesempatan berkenalan dengan Mr. Sadoon, Duta Besar Irak untuk Indonesia bersama ibu dan putrinya. Hingga saya pindah ke Jakarta pun, saya masih sesekali menelepon Mrs. Sadoon dan bercengkerama melalui telepon. Mengurus VVIP - tamu perusahaan hingga karpet merah di bawah tangga pesawat di airport Semarang, Jogja maupun Solo adalah hal biasa yang saya lakukan saat itu. Walau harus bangun pagi buta dan sudah meluncur Kudus-Semarang jam 4 subuh, saya senang-senang saja tuh !

Suatu ketika saat melakukan psikotes menggambar, seorang psikolog mengomentari gambar saya, bahwa saya punya masa lalu yang indah soal pekerjaan, ya itulah, kebersamaan saya bersama teman-teman di Divisi Luar negeri selama bekerja di Kudus yang membuat saya sangat happy ! Maka saat kemarin siang tiba-tiba mantan Direktur saya itu menghubungi saya melalui telepon yang ternyata salah sambung, maka kami pun langsung ledek-ledekan dan mengobrol panjang lebar ! Senangnyaaaa ... ! Saya mengakhiri karir saya di Kudus pada Juli 1998 sebagai Secretary to Vice President yang notabene adalah putra pemilik perusahaan ....

YANG TERSULIT, YANG PALING BERKESAN
Assestment yang paling berkesan bagi saya adalah saat mengikuti tes di Departemen Luar Negeri pada tahun 1997. Tes yang diselenggarakan oleh Deparlu itu adalah tes paling sulit, paling menantang dan paling komplit yang pernah saya ikuti, tapi sekaligus paling saya suka !

Saat itu saya melamar sebagai Caraka Muda. Karena domisili saya di Kudus dan rumah di Tegal, maka saat diundang mengikuti tes tertulis tahap pertama, saya diminta hadir di Balairung Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Selama 2 (dua) hari tes tahap pertama itu, pada hari pertama di pagi hari kami ratusan peserta tes harus mengerjakan 5 (lima) soal esai, dari 6 (enam) soal yang tersedia. Kesemua soal itu berkaitan dengan kondisi politik Indonesia saat itu, sungguh saat menarik !

Beberapa soal yang saya ingat adalah mengenai pengertian politik bebas aktif, kasus Sipadan & Ligitan, kasus uskup Belo, kasus pemberian nobel perdamaian kepada Rammos Horta, serta perihal globalisasi dan transparansi. Siangnya, kami kembali disodori sejumlah pertanyaan dan diminta memilih 5 (lima) untuk dijawab dalam Bahasa Inggris. Tema pertanyaan pun masih seputar tentang perkembangan politik nasional saat itu.
Saya ingat betul, sekembalinya saya dari tes, saya langsung menulis ulang semua pertanyaan tes itu berikut jawabannya kurang lebih persis sama seperti yang saya kerjakan saat tes. Saya yakin, tanpa wawasan yang luas mengenai perkembangan negara dan situasi politik pada saat itu yang menjelang pemilu, mustahil para peserta tes dapat menjawab pertanyaa-pertanyaan itu dengan baik dan memuaskan.

Tentu bukan sebuah kebetulan, bila sejak kecil saya memang hobi membaca surat kabar dan majalah berita. Sejak SD, saya suka mencuri-curi membaca Harian Kompas langganan milik Bapak di bawah pintu rumah dan membukanya perlahan-lahan agar tidak kusut. Dan kebiasaan membaca Harian Kompas itu masih saya tekuni hingga kini. Saat saya bekerja di Kudus dan tengah mengikuti tes Deparlu itu, saya pun sudah berlangganan Harian Kompas, mingguan Gatra dan Tempo ! Sampai-sampai, petugas lopernya berkomentar aneh, karena perempuan muda, 23 tahun macam saya, kok langganan bacaannya media gituan. Hahahaha, tapi terbukti media tersebut sangat bermanfaat dan membantu saya melampaui setiap tes di Deparlu itu.

Pada hari berikutnya, kami diminta membuat konsep tulisan seandainya kami menjadi Diplomat RI, maka konsep diplomasi macam apa yang kami miliki untuk diterapkan dalam kebijakan politik luar negeri RI. Semua penjelasan itu harus dituangkan lagi-lagi dalam Bahasa Inggris sedikitnya 600 kata (kalau tidak salah).

Tak lama setelah itu, saya mendapat panggilan wawancara bersama 5 (lima) orang pejabat Deplu, katanya mereka itu Diplomat. Pada kesempatan itu, kami diminta mempresentasikan konsep yang telah kami tulis pada tes tahap pertama lalu. Setelah itu mereka mengajukan berbagai pertanyaan mengenai konsep tersebut, dan semua proses itu berlangsung dalam Bahasa Inggris. Wuiiih ... !

Pada tes tahap dua ini, terasa sekali atmosfer persaingan yang sengit. Namun yang menarik, hampir sebagian besar di antara kami membawa kliping koran maupun majalah mengenai perkembangan politik RI saat itu. Sambil menunggu giliran kami semua membaca bekal kliping masing-masing dan ada pula yang berdiskusi. Untung saya sudah banyak membaca melalui majalah dan surat kabar langganan, jadi saya memilih mengobrol dan berdiskusi dengan sesama peserta tes lainnya. Namun berdikusi di antara orang-orang pintar itu ternyata sungguh inspiring dan menyenangkan loh !

Pada bulan Mei 1997 saya mendapat panggilan lagi mengikuti psikotes di LPT (Lembaga Psikologi Terapan) Universitas Indonesia. Dari wilayah Jawa Tengah dan DIY tersisa 9 (sembilan) orang dari ribuan peserta, dan salah satunya adalah saya ! Semua peserta dari Jawa Tengah dan DIY adalah lulusan PTN, saya satu-satunya lulusan dari universitas swasta !

Di LPT UI, peserta tes dari seluruh Indonesia tersisa 250 orang. Saya ingat dari Papua ada 2 orang dan dari Manado pun tersisa 1-2 orang juga. Di snilah saya mengikuti psikotes paling lengkap yang sangat luar biasa ! Walaupun tidak berhasil mendapatkan pekerjaan itu, tapi tetap saja pengalaman mengikuti tes di Deparlu membuat saya sangat bangga dan kaya pengalaman !

SAYANG MENERIMA & TAK COCOK HARGA

Dari banyak tes dan wawancara, ada juga beberapa di antaranya yang saya berhasil memenangkannya dan menjual kompetensi saya. Namun, pada akhirnya tidak saya ambil tawaran itu justeru karena hal-hal teknis lainnya. Saya bercita-cita sekali bekerja di organisasi internasional macam UNDP, UNICEF, UNESCO, dll. Suatu ketika setalah melalui wawancara di salah satu badan internasional tersebut, saya pun diberi kabar kalau saya diterima bekerja untuk kontrak 6 (enam) bulan. Namun tak lama kemudian, mereka membatalkan itu, lantaran mereka kasihan karena bila saya menerima tawaran mereka berarti saya harus melepas pekerjaan saya di salah satu BUMN saat itu, yang menurut mereka sayang untuk ditinggalkan. Waduh, bagaimana ini ? La wong sayanya saja ga' ada masalah, tapi mereka justru merasa sayang ....



Di lain kesempatan, saya melihat sebuah Universitas kelas dunia di Indonesia membuka lowongan posisi PR Manager. Berhari-hari, berminggu-minggu saya melihatnya saja sekedar nice to know dan tidak sedikit pun berniat melamarnya karena lokasinya jauh dari rumah. Hingga suatu hari saya menerima surat elektronik dari sebuah perusahaan head hunter (pencari tenaga kerja on line) yang meminta saya mengirimkan CV lengkap saya kepada universitas tersebut. Well, nothing to loose, saya kirim saja CV lengkap saya.

Kurang dari seminggu, saya pun mendapatkan panggilan itu. Seorang mantan Menteri Riset dan Teknologi menunggu saya di mejanya untuk kemudian mengajak saya berbincang mengenai banyak hal. Pembicaraannya mengalir sangat hangat dan menyenangkan. Beliau banyak memuji kompetensi saya dan mengatakan secara terus terang, kriteria saya melampaui targetnya. Sopan betul beliau ya ... ? Hahahahaha ....

Sayangnya, pada saat negosiasi dengan pihak yayasan, kesepakatan tidak berhasil dicapai. Pada prinsipnya saya sangat negotiable, namun saya tetap harus realistis menghadapi hidup. Jadi dengan lapang dada, saya pun tidak berhasil memperoleh pekerjaan itu sebagai PR Manager. Setidaknya, bukan karena saya tidak mampu, tapi karena mereka belum mempunyai kebijakan untuk memberikan reward bagi saya setidaknya sama sebagaimana yang saya peroleh selama ini.

MANFAAT ASSESTMENT
Bagi saya, pengalaman mengikuti berbagai undangan assestment dan wawancara itu memberikan banyak manfaat. Pertama melatih saya dalam berdiplomasi secara personal dan yang lebih penting mengetahui posisi tawar kompetensi kita di luar apa yang kita miliki saat ini.

Begitupun saat assestment lalu sang spikolog mengomentari bahwa saya 'beda gelombang' dengan lingkungan yang saya hadapi saat ini. Ibarat sebuah gelombang adalah am sementara gelombang yang lain adalah fm, tentu tak mungkin bertemu bukan ? Kalau beda frekuensi tentu masih mungkin bergeser untuk menyesuaikan diri, tapi kalau beda gelombang ? Sama halnya setelan listrik, yang satu 220 dan lain 110 maka bisa bikin korslet kan ? Makanya, yang terbaik saat ini mungkin untuk tidak menggunakan gelombang yang saya miliki sambil terus berusaha mendapatkan gelombang lain yang sesuai untuk saya.

Rezeki tidak mungkin salah alamat, itu hal yang selalu saya yakini. Jadi kalaupun belum berhasil sekarang, itu bukan berarti gagal selamanya. Ikhtiar itu wajib hukumnya, dan pada setiap kejadian ada banyak hikmah di dalamnya. Allah SWT tentu telah mengatur agar semua yang terbaik bagi kita selalu tiba pada waktunya yang paling tepat dan sempurna. Inssya Allah, amin ....

Tuesday, 21 December 2010

IBUKU

Subuh-subuh, pulang dari rumah sakit pagi tadi tiba-tiba ibu telepon. "Halo, assalamualaikum," kata ibu. "Ada di mana kamu ?" tanyanya. "Di rumah," jawab saya. "Wing, kamu tahu lagu ini ga, 'Kasih ibu, sepanjang masa ...' tahu 'ga ?" tanyanya.

Tahun lalu, saat diminta sebagai pembicara sebuah siaran radio dalam rangka memperingati Hari IBu, ibuku minta saya membuatkan materi dialog yang bertema teknologi dan peran ibu. Pagi ini, ibu meminta saya mendiktekan lagu KASIH IBU untuk meng-up date statusnya di facebook.

Saya pun baru teringat kalau hari ini ternyata HARI IBU. Ya sudah deh, subuh-subuh itu saya mendikte ibu lagu "KASIH IBU". Kasih ibu, kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia, sementara ibu mencatat di seberang telepon sana. Dari speaker telepon terdengar suara bapak menyanyi lagu itu keras-keras. Ternyata Bapak hafal lagu itu, dan ibu sebel dengar suara nyanyiannya yang kueraasss itu ... wuakakakak !

"Selamat hari ibu ya Bu," kata saya. "Lah, emoh," katanya seperti biasa reaksinya kalau diberi selamat ulang tahun. "Hadiahnya mana ?" tagihnya. Hahahahahaha ... "Selamat hari ibu juga buat si kucing mbok ya, Bu" pinta saya. "Iya deh, tuh kucing mbok lagi nyusuin anak-anaknya, 5 ekor yang baru dilahirkan 3 hari lalu" jawabnya.

Sudah 37 tahun 11 bulan, Stella Emilina binti James Pangkey, itulah nama indah beliau, menjadi ibu saya, dengan segala kekurangan dan kelebihan (berat badan) nya, hahahahaha. Tapi yang pasti, walaupun kadang kala suka judes setengah mati, ibu saya itu memang asli cantik, pinter masak dan fashionable abis ! Ibu, tidak pernah ragu pakai baju yang tabrak warna sekalipun ! Jarang sekali ibu pakai baju yang berwarna kalem, selalu cerah, terang benderang, sehingga semakin menonjolkan kulit putihnya yang seperti susu atau pualam ya ?  Begitupun warna lipstiknya, selalu merah cerah sepedas cabe ! Semasa mudanya, ibu aktif berolah raga, jago voli, tenis sekaligus merias penganten tradisional dan berorganisasi. Namun bakat berdandan itu tak menurun sedikit juga pada kami anak-anaknya. Kasihan deh luuuu ... (gue gitu maksudnya).

Ibuku itu, 'pemain sinetron', cepat sekali mewek, dan membuat setiap acara keluarga mengharu biru dengan tangisannya. Karena kepiawaiannya dalam menangis itu, kami anak-anaknya sering dikomplain saudara2 lantaran tangisan ibu membuat seluruh keluarga jadi ikut menangis ! Wuakakakak ... ! Kegemarannya membuat kue kering setiap kali ramadhan sejak saya kecil dulu, seringkali membuat saya sebeeeeeeell, karena saya dipaksa membantunya dari bedug subuh sampai seharian mencetak kue-kue itu dengan tangan ! Sekarang, karena saya tidak lagi tinggal di rumah ibu, di setiap lebaran saya dengan manja selalu saja minta jatah kastengel dan nastar buatannya yang dasyat !

Ibuku yang berdarah Manado itu, kalau mau masak bubur tinutuan, bubur khas Manado, justeru telepon ke saya bertanya resepnya ! Gubraaaaakkkk ! Saat ini, ibuku menjadi satu-satunya anggota dewan perwakilan rakyat daerah perempuan paling senior (tertua) di Kota Tegal, di antara para anggota dewan lainnya yang usianya lebih muda dari saya.

Semoga di hari ibu ini, ibu semakin mendapat kemuliaan Allah SWT, tetap terjaga kecantikannya, tetap luar biasa kekuatan dan ketabahannya, ketegarannya dalam mendapingi bapak dan kami anak-anaknya. Semoga Allah senantiasa mencintai beliau karena amalan dan ibadahnya yang luar biasa. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, rezeki dan kemudahan di segala urusan beliau karena keikhlasannya mengurus dan mempermudah segala urusan kami anak-anaknya, selama ini. Semoga doa-doanya yang khusuk, senantiasa menjaga kami dan mengantarkan kami anak-anaknya ke kehidupan yang senantiasa diridhoi Allah SWT, karena keridhoannya. Sebagaimana sabda rasul kepada para sahabatnya yang bertanya tentang manusia yang layak dihormati dengan sangat di muka bumi ini,"... maka itu adalah ibumu, ibumu, ibumu, baru bapakmu ..."

Tuesday, 23 November 2010

INSIDEN JABAT TANGAN SANG MENTERI DAN FIRST LADY

Kunjungan Presiden Amerika Serikat, Barrack Hussein Obama ke Indonesia pada 9-10 November 2010 lalu rupanya menyisakan sebuah peristiwa menarik. Pasalnya, Menkominfo Tifatul Sembiring kedapatan berjabat tangan dengan first lady, ibu negara AS, Michele Obama. Keruan saja, peristiwa langka ini pun menjadi kontroversi di media massa nasional bahkan pemberitaan di negara paman sam pun ramai-ramai menjadikannya berita utama .....

Tifatul Sembiring, Sang Menkominfo seperti yang diketahui masyarakat luas adalah salah satu menteri kabinet pembangunan bersatu jilid 2 yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Bukan pula sebuah rahasia, bahwa Sang Menteri, dengan keyakinanannya sebagai pemeluk Islam adalah sosok yang tidak biasa berjabat tangan dengan kaum hawa. Kebiasaan ini bukan merupakan kebiasan aneh yang dipilih orang Sang Menteri saja. Banyak pemeluk agama Islam lainnya di Indonesia ini, baik perempuan maupun pria yang juga menghindari berjabat tangan atau bersentuhan dengan lawan jenis demi menjaga kehormatan masing-masing pihak.

Nah, hal inilah yang kemudian menjadi sebuah 'insiden' kecil dan menuai banyak perdebatan. Jabat tangan kontroversial itu terjadi saat Sang Presiden AS beserta ibu tengah melakukan kunjungan ke Istana Negara dan menerima sambutan secara protokoler Presiden RI dan ibu beserta para menterinya tanpa terkecuali Menkominfo. Caranya, ya jabat tangan itu tadi !

Kisahnya bermula saat Sang First Lady tiba di hadapannya, Sang Menteri tertangkap kamera terkesan menyambut uluran tangan Sang First Lady secara serta merta. Tidak hanya itu, memang dalam rekaman gambar terlihat bahwa Sang Menteri bahkan menggenggam erat tangan sang First Lady dengan kedua tangannya dengan penuh antusias. Gambar boleh bicara begitu, tapi keyakinan dan suasana hati yang sebenarnya belum tentu sama dengan yang terlihat di gambar.

PILIHAN KEYAKINAN ADALAH PRIVASI
Suatu ketika beberapa tahun lalu saya sempat membaca profil seorang pejabat bank sentral yang dimuat dalam sebuah media massa. Ia seorang perempuan, setengah baya dan berkerudung dengan jabatan cukup tinggi. Kebiasaannya antara lain adalah melaksanakan shalat dhuha segera setibanya beliau di kantor. Untuk itu, beliau selalu mempersiapkan dirinya untuk shalat dhuha sejak berangkat dari rumah dan menjaga wudhunya hingga tiba di kantor.

Beliau sungguh beruntung dapat melaksanakan niatnya dengan berhasil dan relatif tanpa kendala yang berarti. Pertama, karena beliau seorang pejabat tinggi maka setiap hari ke kantor beliau diantar supir. Beliau hanya duduk di kendaraan tanpa harus melakukan aktivitas yang memungkinkanya bersentuhan dengan orang lain yang dapat membatalkan wudhunya. Misalnya, membayar tol yang bisa jadi petugasnya adalah seorang pria sehingga dapat membatalkan wudhunya. Kedua, di tempatnya bekerja memiliki budaya yang memungkinkannya menjaga wudhunya dengan aman.

Kebetulan, sesekali saya pun ingin melakukan hal yang sama, melakukan shalat dhuha di kantor dan menjaga wudhu sejak dari rumah. Persoalan pun menjadi jauh rumit bagi saya. Pertama soal berkendara itu tadi karena berkendara sendiri maka saya berpeluang untuk batal wudhu saat membayar tol atau parkir saat harus mampir ke suatu tempat misalnya sebelum menuju kantor. Kedua, ini jauh lebih sulit, budaya tempat saya bekerja adalah penganut berjabat tangan hampir di setiap kesempatan ! Hahahaha ... !

BUDAYA LOKAL JABAT TANGAN
Mungkin, lingkungan tempat anda bekerja termasuk yang menganut soal berjabat tangan siapa saja, di mana saja, kapan saja. Jadi, sejak tiba di pintu gerbang dan bertemu petugas pengamanan hingga petugas kebersihan, seluruh pegawai sudah 'terbiasa' dengan berjabat tangan dengan siapapun yang ditemuinya. Tiba di ruangan pun 'harus' berjabat tangah dengan pegawai lain yang sudah tiba di sana.

Saat berurusan dengan pegawai di ruang yang berbeda pun 'wajib' berjabat tangan dengan sang tuan rumah dan semua penghuninya. Saat mengikuti sebuah rapat di ruang rapat manapun pun tidak bisa tidak, siapa pun kudu berjabat tangan dengan semua yang hadir di sana. Begitu pun saat pulang kerja dan mengakhiri setiap aktivitas, setiap orang musti saling berjabat tangan. Akhirnya kesimpulannya, pegawai yang tidak turut membiasakan diri dalam salah satu bagian budaya itu menjadi terlihat 'aneh' dan terseleksi alam ....

Seorang teman perempuan walaupun bukan penganut Islam fanatik, tapi ia termasuk yang merasa nyaman untuk tidak bersalaman dengan lawan jenis. Ia pun bercerita saat ia mencoba memulai sesuatu yang baru untuk mensubstitusikan kebiasaan berjabat tangan dengan ucapan salam yang baik dan lebih meriah. Maka, kala memasuki ruang kerja di pagi hari ia pun mengucapkan salam "Assalamualaikum" dan selamat pagi kepada siapa saja sambil melambaikan tangan sembari menuju ke meja kerjanya. Ia menyadari, bahwa hal ini besar kemungkinan menimbulkan salah paham terutama di kalangan atasan karena bisa saja menganggap para pegawai tidak sopan karena tidak berjabat tangan.

Kebetulan saya, ingin sekali bisa melaksanakan shalat dhuha di kantor. Berjabat tangannya itu sendiri, tidak terlalu menjadi soal bagi saya. Saya hanya butuh menjaga wudhu saya agar bisa melaksanakan shalat dhuha di pagi hari. Maka saat saya disodori tangan yang mengajak berjabat tangan biasanya saya segera merespon dengan mengatupkan kedua belah tangan sambil mengucapkan selamat pagi atau assalamualaikum, sembari mengatakan maaf saya masih punya wudhu akan shalat.

Secara kasat mata, umumnya mereka mengerti, namun entah dalam hatinya. Tanpa bermaksud riya atau pamer ibadah, keterusterangan akan hal itu perlu disampaikan agar tidak salah paham walau tetap saja ibarat memakan buah simalakama. Kenyataannya, saya pernah sekali waktu sudah menyampaikan secara baik2 tentang niat shalat saya, namun seorang atasan pria justru menyentuh wajah saya dengan kedua tangannya dan 'nguyel2' kepala saya. Saya pun marah bukan kepalang dibuatnya. Mungkin maksudnya bercanda, tapi tentu kurang pas dalam hal ini.

Pepatah bilang, "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung" itu benar adanya. Namun manakala budaya yang harus diikuti tidak selaras dengan keyakinan spiritual menyangkut prinsip-prinsip religius tentu ini menjadi persoalan yang serius. Untuk itu, manusia pun 'terpaksa' memilih. Bila, setiap makhluk sosial memiliki toleransi yang baik mengenai perbedaan pilihan itu, seharusnya hal seperti ini tidak lagi menjadi soal.

CANGGUNG
Dalam kasus Menkominfo, dalam jejaring sosialnya beliau tetap bersikeras bahwa ia pada prinsipnya tetap dengan keyakinannya bahwa ia tidak berjabat tangan dengan lawan jenis. Pasalnya kejadian saat itu sangat situasional. Saat Sang First Lady sudah mengulurkan tangannya, ia merasa tidak enak hati untuk tidak menyambut uluran tangannya. Selain itu, bila ia tetap menolak uluran tangan sang First Lady, berpotensi untuk menimbulkan rasa malu, canggung, ketidaknyamanan pada kedua belah pihak, baik bagi First Lady, maupun pemerintahan RI yang mana salah seorang Menterinya mengabaikan uluran tangan First Lady tamunya untuk sekedar berjabat tangan.

Sesungguhnya situasi seperti ini bisa jadi hanya dapat dirasakan dan dimengerti oleh mereka yang pernah mengalami hal seperti ini. Sesungguhnya mereka pun merasa canggung terpaksa menolak uluran tangan seseorang apalagi dalam situasi yang resmi dan protokoler, maka suasana menjadi jauh lebih sulit.

TOLERANSI DAN MENGHARGAI PILIHAN
Intinya sesungguhnya bukan pada jabat tangannya, tapi penghargaan atas pilihan sikap orang lain, mampukah kita melakukan itu ? Bila yang bersangkutan suatu ketika melampaui keyakianannya sendiri, yakinlah itu pasti sangat situasional dan ada alasannya. Anda toh bisa merasakan, seorang CEO yang menganut keyakinan serupa namun disodorkan pada pilihan satu-satunya; "jabat tangan" saat bersilaturahmi lebaran, maka jabatan tangannya sungguh terasa hambar, tawar, dingin tanpaadanya 'rasa' sedikitpun di dalamnya. Tak ada genggaman yang erat, tak ada ayunan yang meyakinkan, tak ada pula kehangatan di sana. Apalagi wajahnya, yakin karena apa yang ia lakukan tidak sesuai dengan keyakinannya maka sudah jabatan tangannya terasa begitu dingin, ekspresi wajahnya pun tak kalah dingin, beku bagai gunung es.

Demikianlah keyakinan ... tak bisa dipaksakan. Kalaupun tetap digugurkandan terjadi di luar kebiasaan itu karena sebuah alasan yang wajar dan toleransi itu sendiri. 'Ia', keyakinan itu bertoleransi atas kebiasaan orang banyak ....

Thursday, 18 November 2010

KASUS GAYUS REALITA SISTEM PERADILAN INDONESIA

Secara normatif, biaya hidup tertinggi di Indonesia adalah biaya kesehatan dan pendidikan. Namun Kasus Gayus, merupakan realita, kenyataan hidup yang sebenarnya di Indonesia. Peradilan di Indonesia adalah mafia. Peradilan di Indonesia adalah gangster. Peradilan di Indonesia bisa jadi melampaui kebutuhan yang lebih utama, pendidikan dan kesehatan manusia.

Yakinlah, membeli kebebasan bukan hanya dilakukan oleh Gayus saja. Membeli kebebasan dari sistem peradilan di Indonesia adalah hukum tak tertulis yang sebenarnya "ditegakkan" oleh aparat hukum di Indonesia. Sebut saja, kepolisian, kejaksaan, pengadilan hingga rumah tahanan atau lapas, semuanya sama saja, berujung dan berpangkal pada uang !

Akibatnya, perlawanan, perjuangan melawan peradilan di Indonesia tak ubahnya sebuah prestise. Siapa yang punya uang lebih, maka akan bisa jauh lebih banyak "membeli" previlegde peradilan ! Pengurangan hukuman, kemudahan fasilitas, perolehan remisi, grasi, hingga pembebasan hukuman sangat tergantung pada banyaknya nilai rupiah yang Anda miliki !

Lihat saja perilaku polisi lalu lintas di pinggir jalan. Mereka itu ibarat pengemis berseragam ! Pengemis, masih berbesar hati, jujur memposisikan dirinya sebagai pengemis sejak awal. Tapi lihat kelakukan polisi. Mereka memasang perangkap, bersembunyi dan "priiiiit ... !" mereka menangkap para korbannya setelah menciptakan peluang, mengintai beberapa waktu, dan "menangkap tangan" korban-korbannya.

Model BAP pun sangat mungkin dinegosiasikan bila uang dengan piawai mampu berbicara. Putusan final pengadilan bahkan mahkamah agung pun bisa cepat diserahkan apabila kecepatan uang mampu mengucur lebih banyak dan lebih cepat. Tanpa uang, maka peluang Anda diperlakukan adil oleh sistem peradilan sungguh amat kecil !

Rutan di manapun menarik pungutan berbilang ribuanrupiah per orang yang akan berkunjung. Sementara begitu memasuki pintu lapas atau rutan, pengunjung masih pula harus menyiapkan uang bagi "mbah maridjan" alias juru kunci. Tiba di dalam rutan, pengunjung masih juga harus memberikan upeti demi kelancaran selama berkunjung.

Penghuni rutan pulang, plesir, bepergian, berobat, cuti, dsb ? Itu sebuah keniscayaan ! Semua orang kaya yang berada di rutan melakukannya ! Itu bukan rahasia lagi. Maka kasus Gayus ini sebagai pemicu terbongkarnya sistem peradilan di Indonesia ? Tentu saja sama sekali tidak.

Kasus Gayus menjadi tunggangan atas banyak kepentingan. Baik kasus hukumnya itu sendiri maupun kepentingan politik yang saling berkait dan bersinggungan di antaranya. Maka Gayus pergi ke Bali nonton tenis, sementara di pengadilan air mata buayanya berkilah ia rindu keluarga, istri dan anak-anaknya, itu tentu bisa dilakukan di rutan bukan ? Atau paling apes ya kabur ke rumah.

Namun begitulah sistem peradilan di Indonesia. Sekali lagi, ini adalah sebuah kekeliruan yang sistemik serta dialkukan secara berjamaah, bertahun-tahun di seluruh wilayah tanah air. Berat hati mengakui ? Sayang sekali, negara Indonesia tercinta ini, memang seburuk itu saat ini. Suatu hari akan berubah menjadi baik, inssya Allah ya. Namun demi sebuah kejujuran, inilah realita yang sebenarnya yang harus dibenahi tanpa pandang bulu, siapa saja.

Thursday, 21 October 2010

TAKE IT OR LEAVE IT

When you dissapointed about something, it is not about take it or leave it. Not at all. If you dissapointed about your country, will you leave it and go abroad for better living ? Absolutely not, mostly reason not. When you dissapointed with your mom, dad, sister even with the whole family, will you leave them for other family ? Come on ! It doesn't make a sense, does it ?

Then when you feel upset with your job, your bos, and all the things there, will you leave it without any plan ? Sure you will not ! Tehre are so many reasons that we have to think about before we decide the big decision about our life, don't we ? It doesn't mean that we also only keep silent with all the bad situations, right ?

It's your own right to speak up, to scream, to ask about your right ! Even they don't want to listen and make it to you, at least you have already controlled them that they do something wrong with other people's life by your loudly screaming. If they are insist to ignore your right, you are able to laugh at them as a looser !

Facing the bad situation is not easy. Endure with suffer need big effort. No one knows how bad it is unless they have their own experiences. Again, it is not about take it or leave it. It is not fair at all when you say, "Just take it or leave it !" Furthermore, if we are living at the same land from the same bowl, it means that they are not the real bos ! They are only such the bad guys ! Most of whom are cruel !

However, struggling to survive is achieve. You have to proud to your self that you are not the same person as they are. You are not the opportunist as they are. Your are more taft than they are. As you are able to see, as soon as they out of their time here, no body is respect to them anymore ! That's the fact ! Because they always act as the bad guy before to others, selfish, take advantage to other people and rude. So don't worry, keep on moving ! There is nothing to be worried as long as you always do the right thing ! Inssya Allah !